Salam Kepada Diri yang Hilang

Malam menyambut aku dan kamu dalam
setangkup langit sore itu. Bersalam pada
seseorang dalam diriku yang hilang entah
kapan dan kemana. Aku tengah terduduk di
beranda, bersama kenangan-kenangan masa
yang perlahan terbuka dengan hadirmu di sini.

 

Kenangan, bagai embun dedaunan yang tak
sempat mengucap salam ke depan jendela
kamar. Aku, lengan ranting patah yang tak
kuat menopang ingatan tentang kita. Dalam
diriku, kulihat seorang anak terlelap selama
dan sejauh ingatan itu ada menyelimuti
jantung kesunyianku. Terpatri pada
kesendirian, menyembah tabah pada kesepian.

 

Rintik air kran membangunkanku, mematikan
tiap sedu yang menyapaku. Dengan jingga
langit yang ditelan rona di kaki langit sana.
Kau datang. Diriku yang lain. Bersimbah luka
yang tak tampak oleh mata. Mata langit, mata
keran, mata kaki, mata apa pun itu yang ada.

 

Aku beranjak dari beranda. Menanggalkan
ragam macam kesunyian pada ranting dan
dedaunan di sana. Dan langit, mengarak kau
kembali pada tempat tak teraba. Kucoba sekali
lagi. Diri yang tak utuh ini, kembali
memanggilmu dalam dada. Jantung tempat
pertemuan kita. Hingga malam melahap mata,
aku tidak bisa menemukanmu. Dan kau pergi
sekali lagi, tanpa salam pada separuh dirimu di
sini.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top