Ketika Hidup Bertanya dan Manusia Menjawab

Teringat aku akan sepenggal kisah dari buku Burung Berkicau karangan Anthony de Mello.

Alkisah, ada seorang murid yang mengeluh kepada Gurunya:
“Guru menuturkan banyak cerita, tetapi tidak pernah menerangkan maknanya.”
Jawab sang Guru:
“Bagaimana pendapatmu, Nak, andaikata seseorang menawarkan buah, namun mengunyahkannya dahulu sebelum ia memberikannya kepadamu?”

Kubayangkan dalam pejamku, kuamat-amati dan kusadari gambaran yang muncul dari kutipan cerita itu. Seandainya benar sang Guru menawarkan buah kepada murid itu, maka: pelan-pelan ia menggerakkan tangan, setelah menimbang cukup lama, ia memberanikan diri untuk menegaskan hati, memilih–memutuskan–mengambil utuh buah itu dari tangan Gurunya, mengucapkan terima kasih dan lalu mengigit, mengunyah, merasakan, hampir memuntahkan, tetapi akhirnya, menelannya.

***

Ada masa di mana pasca suatu keputusan hidup selesai kupilih dan kuambil, aku merasa bahwa hari baik tak kunjung datang. Kabar gembira tak terdengar lantang siarnya. Rasanya lebih banyak gema yang tak jera berbisik dan menghasutku untuk menyesali apa yang telah kupilih, alih-alih bersyukur telah memberanikan diri membuat keputusan sebagai manusia bebas di dalam hidup ini.

Karena pikiran dan perasaan bersalah semacam itu pedih dan membelenggu, tak lama, aku mulai mencari-cari cara yang dapat membebaskanku dari hilang arah yang menjadikanku susah. Adalah melemparkan batu dan menghakimi berbagai pihak atas apa yang terjadi di dalam hidupku. Aku merasa menang, sesaat lesap segala gamang, merasa murni, merasa paling benar sendiri. Namun semua itu semu. Lama bersembunyi aku pada rasa aman yang keliru. Bekerja, bersekolah, pergi ke tempat yang jauh hingga pulang lagi ke rumah dengan hati tak penuh seluruh.

Berfokus pada tindakan menunjuk-nunjuk kambing hitam atas apa yang kualami hanya seumpama dahan yang mengayunkan kapak pada induk batangnya sendiri. Selama kusembunyikan wajahku, batinku tertekan, dan aku mengeluh sepanjang hari.

Sampai di suatu titik, dalam puncak keletihan waktu itu, kurasa hidupku mulai membaik, justru ketika aku perlahan “menjawab iya” pada hidup yang menantingku: “Apakah kamu mau mendaku dan menanggungnya?”

Kurasa aku tak cukup pintar untuk dapat mengatakan atau merumuskan bagaimana aku ini sebagai anak manusia pada akhirnya dihadapkan pada dua jalan dan mesti memilih satu untuk diselesaikan. Tentu sejarah hidup, orang-orang terkasih dan terdekat, keadaan, atau bahkan takdir, semua memiliki peran dan memberi pengaruh. Tetapi, ada yang masih terus mengganjal setiap kali aku memihak berat sebelah, memberi tekanan bahwa hari ini aku begini karena dia, karena mereka, karena kejadian ini, karena peristiwa itu; bukannya ini bagian dari keputusan dan pilihanku.

Barangkali kalau merujuk sesuatu yang ideal bahwa pengertian bertanggung jawab itu adalah berpikir matang-matang bahkan sebelum bertindak, sepertinya kesempatanku sudah lewat. Akan tetapi, jikalau yang dimaksud juga dengan bertanggung jawab adalah suatu sikap mendaku, mengunyah, dan menelan bulat-bulat segala risiko dan konsekuensi dengan sadar, dan lalu bersetia dalam menjalani apa yang diberikan hidup, aku merasa lebih tenang. Dengan demikian, aku mesti bertahan, meski semua tak begitu terang-benderang sekarang.

Aku bersyukur bahwa dalam segala kerapuhan, ada percakapan kecil yang lamat-lamat kudengar dalam dadaku ketika hari ini mengenang masa-masa bergulat menerima sendiri pilihan hidupku waktu itu:

Bilamana hidup memberikanku kesempatan kedua, mengulang waktu, dan berbalik punggung untuk menukar keputusanku waktu itu, bagaimana? Terima kasih banyak, jawabku. Pelajaran yang amat berharga telah kuterima dari proses ini; dan rasa-rasanya aku tak rela mempertukarkannya lagi.

Apabila dahulu aku lebih memilih tunas pohon beringin daripada biji semangka, dan kemudian malah berharap akan terbit cerah buah-buah segar nan merah yang bisa kunikmati di akhir hari, dan nyatanya itu tak pernah ada sehingga membuatku kecewa, aku telah lama keliru.

Akan tetapi, jikalau dengan pilihanku yang sama, musim dengan segala kebijaksanaannya tetap mengizinkanku menggandeng tangannya, dan ia meyakinkan serta menolongku menerima bahwa keteduhan juga adalah suatu pokok yang dapat dipanen suatu saat nanti, aku akan tetap bertahan pada pilihanku itu, sekali lagi, sekali lagi.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top