Ke-sakti-an di Dasar Ke-sakit-an

Saya terkadang curiga bahwa tidak jarang hidup sengaja menyembunyikan nilai-nilai pentingnya (atau bahkan maknanya juga)–di dalam ke-sakit-an.

Jikalau benar demikian, yang saya maksud bukanlah tentang seseorang yang tanpa dasar, penyebab internal khusus, alasan atau kesadaran yang penuh dan jelas: tiba-tiba ingin sakit, ingin menderita, atau mungkin terlihat sakit dan menderita, misalnya. Itu tentu berbeda dengan pribadi-pribadi yang memang memilih bentuk-bentuk mati raga atau cara hidup asketik tertentu–berpuasa, berpantang, bersemadi bahkan menyesah atau melukai diri–yang dijadikan jalan untuk mencapai kesadaran, kekuatan, atau ilmu-ilmu tertentu.

Yang saya maksud bukan kesakitan macam itu, namun kesakitan yang timbul atas reaksi terhadap pengalaman berat atau kegagalan. Seperti sebuah déjà vu: pengalaman-pengalaman berat nan menyakitkan kerap datang satu paket dengan rentetan berkat yang melegakan. Bahasa lainnya, sering kali kekuatan-kekuatan (ke-sakti-an) atau hal-hal baik yang selama ini tidak muncul di permukaan hidup keseharian, ternyata bersemayam di relung-relung ke-sakit-an.

Dengan sedikit ngawur dan sok tahu, saya merasa bahwa “hidup yang lama”–yang pahit itu, tidak begitu saja kedaluwarsa ketika “hidup yang baru” muncul. Keduanya saling anyam dan membentuk manusia–saya, kita, hari ini.

Meskipun kadang saya agak eyel, tetapi saya cukup percaya bahwa pengalaman adalah guru dan pendidik yang baik. Saya mencatat satu pengalaman yang menyadarkan saya akan hal itu. Untuk jangka waktu yang cukup singkat pada 2015 lampau—ketika mendapatkan kesempatan menjadi salah satu pekerja bangunan untuk sebuah proyek rumah keluarga—sambil beristirahat pasca-mengaduk dan mencampur semen-air-tanah secukupnya, saya duduk dan memperhatikan arahan pak mandor yang meminta kami semua agar tembok bangunan rumah yang lama dan berserakan itu tidak dibuang sesudah diruntuhkan—melainkan puing-puing yang bentuknya tidak karuan diolah sedemikian rupa menjadi bagian fondasi bangunan yang baru.

Barangkali alasannya praktis. Akses keluar masuk truk susah—dan apa salahnya bata-bata bangunan lama, sejauh masih kuat—dimanfaatkan dengan baik untuk bangunan yang baru. Bagi saya, pengalaman itu menyingkapkan hal yang amat personal. Anggaplah diri dan hidup kita adalah sebuah proses membangun bait atau rumah. Proses di kehidupan yang lama tidak asal dibuang, tapi dapat menjadi bagian dari fondasi hidup yang baru.

Siapa yang menyangka, pengalaman luka dan pahit di masa lalu memberikan saya dinding dan langit-langit yang baru untuk bisa lebih kuat menghadapi tantangan-tantangan hari ini. Siapa yang menyangka, pengalaman luka dan pahit di masa lalu memberikan saya jendela, pintu, dan ventilasi yang baru untuk bisa menyapa, mendengarkan, dan syukur-syukur kalau bisa saling meneguhkan antarpribadi-pribadi terdekat atau minimal mereka yang punya pengalaman berat serupa.

Luka, kegagalan—atau ke-sakit-an itu masih ada di sana, jauh di dalam hati dan direkam baik oleh seluruh pancaindra dan daya-daya jiwa. Ke-sakit-an itu punya potensi yang sama pula barangkali dengan kenyamanan—keduanya punya cara khas untuk membentuk ke-sakti-an dalam diri. Ke-sakti-an untuk pelan-pelan bertahan, menyadari, mengakui–menerima, lalu menjalani hidup, sekali lagi, sekali lagi, dan sekali lagi.

Kenyataan bahwa tindakan melupakan itu semakin giat dilakukan malahan sama seperti meminum air laut, semakin diteguk semakin dahsyat dahaganya, membuat saya pelan-pelan berhati-hati dalam melupakan. Kita tidak pernah bangkit sekaligus meniadakan bekas luka di tangan dan kaki kita. Bukan berarti ini adalah sebuah ajakan membiarkan saja, akan tetapi mengolahnya–dengan bantuan yang ada, manusia menyadari, mengakui dulu–seperti tembok-tembok lama yang tidak serta-merta langsung diruntuhkan dan ditimbun semen. Barangkali dipilah, barangkali diremukkan, barangkali dipadatkan, sehingga siap dibentuk menjadi bagian dari fondasi yang baru.

Jujur saya kadang menyempatkan diri untuk sekadar duduk dan melamun di teras–yang entah bagaimana, barangkali karena diam atau mungkin selain memandangi rumah-rumah serta langit, saya memandang dan meraba kaki atau tangan saya sendiri. Di sana, ada luka masa kecil yang tetap ada di sana. Di satu sisi barangkali membuat tidak percaya diri—tapi barangkali di sisi lain, tangan, kaki, atau bagian tubuh kita adalah perpustakaan bersejarah berisi buku-buku penting yang bisa dipinjam dan dibaca ulang: oh ini, pengalaman luka jatuh waktu latihan sepeda, pengalaman luka kecelakaan motor, terkena cangkul, atau luka bakar karena bermain api saat lampu listrik padam. Dan lewat bekas-bekasnya tentu menolong saya belajar untuk mempersiapkan diri dalam pengalaman-pengalaman baru: memakai helm, menggunakan pengaman, tidak sembrono, dan sebagainya–meski tetap ada saja luka-luka yang menyusul. Tapi, intinya, dari luka dan sakit yang masih tinggal, saya belajar lebih baik.

Luka, pahit, dan sakit di dada–hati pun agaknya demikian–, mereka masih ada dan akan tetap ada di sana. Akan tetapi kombinasi rahmat, usaha serta waktu, melahirkan makna dan kekuatan-kekuatan baru. Ada ke-sakti-an, yang tersimpan di dasar-dasar ke-sakit-an.

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Moh. Lutfi AlmabruriIneke Setiyaningsih Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Ineke Setiyaningsih
Guest
Ineke Setiyaningsih

Beautiful advice. Bagus banget, aku kagum dengan bagaimana Bang Raymondus mengartikan rasa sakit. Inilah yang namanya Tumbuh Dari Luka

Moh. Lutfi Almabruri
Guest

Semoga terus bersikukuh dalam curah hati kecil ini. Pura-pura tangguh kala riuh, dan rapuh kala teduh.

Top