Jalan, Kebenaran, dan Hidup

Cukup sering saya membuka dan membaca ulang “tatal” yang dituliskan oleh Goenawan Mohamad dalam bukunya Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai #96, sebab saya masih belum juga terang-benderang memahami. Adalah kisah seseorang yang ditanyai perihal identitasnya. Ketika diminta menunjukkan kartu, seseorang itu malah berkelakar dan meminta orang yang menanyainya tadi untuk mengambil jejak yang ada di kaos kaki. Tanpa bermaksud mengagung-agungkan cuplikan kisah tersebut–karena barangkali suatu saat cara pandang saya akan berubah–saya merasa bahwa kiasan dalam teks tersebut bicara kebenaran tentang pentingnya suatu proses.

Hubungan antara identitas dan (jejak) kaki adalah kemesraan yang langka saya soroti. Sejauh pembacaan saya yang masih terbatas, meskipun dunia ini penuh dengan perumpamaan-perumpamaan tentang hidup yang identik dengan kaki: perjalanan, petualangan, pencarian, melompat, jatuh, bangkit, berlari, dan melangkah itu sering saya jumpai, toh pada akhirnya saya lebih sering memandang kebenaran perihal hidup manusia berdasarkan apa yang seolah-olah stagnan dalam hukum hasil, dengan kata lain bukan suatu proses. Saya adalah di mana sekarang saya berdiri, begitu kata saya dalam hati; tanpa merasa perlu melanjutkan frasa berikutnya: dan ke mana saya akan melangkah, lagi dan lagi.

Perumpamaan-perumpamaan yang saya sebutkan (perjalanan, petualangan, pencarian, melompat, jatuh, bangkit, berlari, dan melangkah) menggemakan amanat bahwa hidup adalah ke-menjadi-an; dan atas dasar itu, manusia rasa-rasanya pantas memberikan mahkota kepada (jejak) kaki (pengalaman-pengalaman) untuk menjadi juru bicara dari suatu proses hidup, alih-alih singgasana yang megah kepada kepala dan wajah–yang selama ini sudah sering menjadi alat kampanye kemapanan, kehormatan, tampan-cantik dari tampak depan.

Ketika duduk tenang dan berhitung tentang hidup, saya ternyata lebih cenderung lekat pada apa yang sifatnya hasil. Katakanlah mencapai suatu kesuksesan, atau status hidup tertentu. Saya merasa ‘itulah saya’. Lalu saya mandek; dan ketika ada masa-masa di mana keadaan mengulurkan lengannya dan mengambil apa yang saya anggap milik, kesuksesan atau status hidup tertentu tadi dinegasi, saya hilang, tak berbentuk, dan merasa seolah tidak ada lagi makna keberadaan saya. Gagap ingatan saya akan pengalaman-pengalaman bermakna, karena proses tidak sungguh-sungguh saya tekuni, nikmati secukupnya, dan syukuri.

Patokan-patokan tertentu memang penting, supaya tidak lepas kiblat dalam melihat “Siapa saya, siapa manusia” dan “Apa artinya menjadi manusia”. Akan tetapi kalau hidup melulu ada untuk berhenti di satu titik saja, mengapa tunas bertambah tinggi dan mengeluarkan buah, lalu mesti layu dan gugur menjadi pupuk bagi tanah dan benih-benih yang memulai hidup baru–mengapa manusia hidup, bersama menua dan melahirkan yang muda, lalu yang sudah purna berpulang tetapi juga sekaligus lahir kembali dalam roh semangat untuk menemani penerusnya?

Bicara tentang Menjadi Manusia, tanda baca koma (,) menjadi elemen fundamental yang dalam kesederhanaan bentuknya menyimpan isyarat yang kompleks lagi mendalam. Narasi yang menjadi pegangan dan yang dengan tekun direpetisi oleh para pendirinya, menggarisbawahi kata proses sebagai ibu dari beragam pemaknaan tentang apa itu ‘menjadi manusia’.

Barangkali apa yang diusung oleh Menjadi Manusia, terasa paradoksal: di mana secara umum orang-orang mengenal istilah koma sebagai sesuatu yang identik dengan kesakitan, masa-masa terminal, berhenti, bahkan mungkin titik sebelum masuk dalam suatu wilayah bernama kematian. Akan tetapi justru tepat di sanalah (koma, dan dua sisi pemaknaannya) saya merasakan degup jantung yang kuat dari seorang manusia. Tepat di sanalah, kita tahu pasti, bahwa sebenarnya kita tidak pernah tahu sepenuhnya tentang apa-apa yang pasti; dan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka dalam hidup itulah yang menjadi ruang dan waktu di mana Menjadi Manusia memilih untuk hadir memberikan pengharapan, untuk berpantang kalah, berproses lagi dan lagi.

Beriman kepada proses nyatanya ‘memaksa’ manusia untuk lapang dada menerima kemungkinan pahit berulang kehilangan dirinya. Akan tetapi tidak jarang, tersesat adalah peta, yang kelak menuntun kaki manusia pada jalan-jalan menemukan kembali teduh beranda rumahnya.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top