Suatu hari seseorang ingin melihat gambaran dirinya sendiri. Ia meminta penjelasan temannya, dengan bertanya: seperti apakah aku ini? Didengarkan sekian waktu, dan karena manusia punya batas percaya, lalu ia meminta temannya mengarahkan lensa dan memotret dirinya, sepenuh yang temannya bisa. Agar citra nampak apa adanya, pikirnya, dilepaskan seluruh pakaian, dibiarkannya kaca mengedip-ngedip mengingat tubuhnya.

Dicuci dan dicetaklah gambar dan dibingkai digantungkan pada dinding kamarnya. Dipandanginya sehari-harian, tak lepas tatapan mata dan budinya terus berputar menjelajah setiap organ dalam dimensi dua. Seperti inikah aku?

Karena manusia punya batas percaya, digeretnya sebongkah batu, dipapah-pipihkan, dirata-lengkukkan menjadi patung, tubuhnya sendiri. Karena merasa malu, diambilnya pakaian yang waktu lalu ia lepaskan dan dikenakan pada patung dirinya itu: kemeja, sepatu, celana, kacamata.

Dipandanginya, sempurna. Dipuja-puja, diberi sesaji, segala yang wangi di bawah kaki: diabadikan setiap hari: Ah, seperti inilah, inilah aku.

Sekian waktu berlalu, batuan rapuh, besi berkarat, sutera luluh, kaca terlupa, dan tanggal satu per satu segala atribut yang tak pernah bertahan lama. Telanjang, telanjang sudah semua yang ada.

Karena manusia punya batas percaya, seseorang itu kecewa. Diumpatnya, disumpah-serapah, diludah, patung itu, dan diambilnya hisop, direciki dengan air-seni.

Diambilnya palu dan paku, dihentakkan untuk terakhir kalinya, dengan sangat keras, tepat di dada patungnya, tanpa melihat, karena jantung yang lara tak sulit ditemukan letaknya.

Dalam remang kabut yang basah, seseorang itu mengheningkan cipta, sangat lama, sebelum akhirnya tersenyum ia, berjalan pergi kendati menoleh beberapa kali, tanpa busana, dan berjanji untuk kembali, kepada jiwa itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment

  1. “Karena manusia punya batas percaya..”

    Sebuah pemikiran yang tidak terelakkan, tulisan mendalam dan reflektif.
    Teruslah menulis ya!