Deja Vu

Kita bukanlah tuan tanah
bukan juga yang empunya rumah
Tak pernah sekalipun, di bawah langit ini, kita sungguh-sungguh menciptakan
apalagi menjadikan sesuatu ada
dari apa yang sejatinya tiada

—-

Barangkali, kita telah lama dilemparkan
jatuh ke bumi, kepala terbentur dan lupa ingatan
Bagai kelana yang dibekali berbagai pesan enigmatik, sebuah titipan dengan puluhan pertanda yang amat pelik
berusaha memecahkan, berakhir serba melelahkan
Untuk itulah kita akan selalu mencoba bernegosiasi; merayu mengajukan pernyataan, “Bagaimana jika seandainya ada cara untuk bisa kembali?”

—-

Lalu, untuk dapat keluar dari pusaran taifun ini,
adakah kita membutuhkan ribu tahun cahaya
menelusuri jalan pulang yang panjang pada gugusan itu,
terhitung sejak hari pertama ledak raksasa yang menjelma ’aku’?

—-

Akan tetapi, bukankah batu-batu besar hari ini
pernah kita kalahkan di masa lalu
Bukankah badai ombak yang buas dan berserakan
telah kita temukan polanya, dan kita tebas amuknya sejak mula-mula di dermaga
perjalanan kita sebelum terdampar ke dunia

lalu, kalau nyatanya begitu, mengapa manusia sering kali meragu?
—-

Kita tak pernah benar-benar bertemu wajah yang baru
Adalah menjadi suatu kebiasaan: memaksa ingatan untuk melupakan sebagian
Berpura-pura tak mengerti kala matanya melongok ke dalam dada kita: adakah aku telah meninggalkan sesuatu?

—-

Dan rupa-rupa tragedi adalah repetisi
Ia pergi
kelak kan datang lagi
Meski demikian, sudah pasti kita merasa pangling
karena telah lama menjadikannya seumpama orang asing
Memberinya nama; itu pun kita tak berani
apalagi menandai dengan teliti jejak-jejaknya di dalam hati

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top