Ajining Diri Ana ing Lathi

Sebelum algoritma mesin pencari di internet merekomendasikan suatu video musik karya Weird Genius beserta berbagai ulasan terhadapnya (terlepas dari karya anak bangsa ini memang sungguh menakjubkan), “Lathi”, jika dieja dengan keyboard dan kemudian diikuti ke mana ia pergi, pada akhirnya akan mengantar si pencari data kepada peribahasa Jawa yang secara utuh menampilkan frasa: ajining diri ana ing lathi, (…ajining raga ana ing busana).

Jati diri seseorang termanifestasi dalam tutur katanya atau ringkasnya berbunyi; Kita adalah apa yang kita lisankan. Barangkali demikian terjemahannya, setidak-tidaknya demikian yang paling mudah diingat menurut saya secara pribadi, sebagai pemuda yang berbahasa Jawa dalam kegiatan ber-srawung alias bersosialisasi di dusun selama ini.

Kembali ke Lathi. Saya, kok, merasa bahwa nasihat leluhur dalam rupa peribahasa ajining diri ana ing lathi ini relevan, bergema kebenarannya hingga saat ini, tak terkecuali soal bijak bertutur kata di media sosial. Meski medium penyampaiannya beralih wahana dari bentuk komunikasi verbal menuju susunan kalimat dalam ruang-ruang dunia maya, tapi, kok, ya tidak bisa dimungkiri bahwa mau bagaimanapun juga manusia cenderung dapat dinilai kualitasnya dari apa yang dibahasakan dan dibagikannya lewat kata. Mulai dari quotes bijak, bahasa-bahasa baru yang mengawinkan bahasa Indonesia dengan Inggris, seruan-seruan membela yang lemah, sumpah serapah, sampai macam-macam bentuk perundungan yang keluar dengan dasar yang bermacam-macam: perbedaan ras, ideologi, agama, bahkan dengan alasan ya karena sekedar nggak suka aja, ‘nyebelin’ atau mungkin juga iri dengki yang menyamar ke dalam bentuk lain. Memang benar, manusia tidak melulu soal aspek perkataan, akan tetapi pada titik inilah “siapa diri kita” sering kali dapat diidentifikasi.

Ketika sekumpulan kata di media sosial terbang bebas dan pada akhirnya beririsan dengan perihal suka tidak suka yang membabi buta hingga perihal rundung-merundung, kita dapat mengingat beberapa peristiwa: sudah ada berapa banyak pribadi yang ditemukan dalam kondisi depresi (di tataran kesehatan mental yang serius) hingga berpulang, karena tertekan akibat di-bully dengan kata-kata keras, bahkan kasar, di media sosial. Barangkali perundungan di media sosial tersebut bukan alasan satu-satunya; pribadi yang terdampak cyberbullying tersebut bisa jadi mengalami hal pahit lain di rumah, di sekolah, di lingkaran pertemanan, bahkan di masa lalu, dan lain-lain, sedemikian rupa bercampur dan bertumpang tindih sehingga kombinasi ke seluruh variabel tersebut membuatnya tak bertemu titik terang untuk melihat cahaya bermakna yang dapat memberikan harapan padanya untuk terus bertahan dan hidup; dan ini yang kadang tak serta-merta disadari oleh sekian banyak pengguna.

Tidak bermaksud mengeneralisasi, karena pun ada orang-orang yang bisa bersikap santai dan enjoy terhadap apa yang terjadi di kolom komentarnya. Akan tetapi, nyatanya tak sedikit orang-orang yang melihatnya (tindakan perundungan tersebut) sebagai yang sama dan sebangun dengan apa yang ada di hadapan mata, sehingga menggerogoti kesehatan jiwa.

Kalau orang jenis kedua tadi pas ndilalah akun pribadinya dibuka secara umum, yang tujuan awalnya yaitu untuk dapat berbagi sesuatu, dilihat, diapresiasi dan dikomentari orang lain bahkan syukur-syukur menginspirasi, tetapi ternyata ditemukannya pendapat yang tak mengenakan bahkan menusuk hati, berhari-harilah sudah terpikir semuanya yang buruk dan itu mengganggu imajinasi serta penghargaan terhadap diri sendiri. Bagi pengunggah, mental yang kuat dan siap untuk menerima memanglah penting. Akan tetapi, dari sisi pihak yang berkomentar, suatu perundungan–apalagi yang berlebih-lebihan serta tanpa dasar yang jelas–adalah jalan pilihan yang tidak tepat untuk dilanggengkan.

Di lain sisi, adiksi manusia zaman ini terhadap media sosial yang hadir lengkap dengan seperangkat rasa takut kehilangan informasi ataupun takut tidak mengunggah apa-apa, secara otomatis memacu tubuhnya untuk resah dalam situasi sepi. Sebentar-sebentar tidak tahan untuk menunda hal yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Pada akhirnya kebanyakan pribadi, sadar tidak sadar, membuka ponsel lagi, melihat-lihat lini masa, meng-upload sesuatu, dan terus memantau serta berputar-putar di sana. Tidak salah. Tentu itu bagian dari menikmati apa yang dilahirkan oleh teknologi dan kecerdasan manusia. Tetapi ada pula suatu kelakar tentang hal ini: ajining diri ana ing Ig story. Kita adalah apa yang kita unggah di Ig story. Pernyataan satire ini patut mendapatkan perhatian dalam rangka menjaga keseimbangan supaya manusia tak melulu melekatkan harga diri pada apa yang ditampakkan di media sosial (entah itu terkait apa yang diunggah ataupun terkait nilai komentar yang diberikan). Menuliskannya mudah, tapi melakukannya sukar. Ya, karena itu yang saya alami, berusaha selalu terlihat sebagai “orang baik-baik” saja di kanal-kanal akun pribadi hingga akibatnya merasa kebingungan menempatkan dan menjadi diri sendiri ketika ada yang berkomentar tak sejalan dengan ekspektasi.

Entah karya berupa sebentuk musik, fotografi, pun barang milik hingga berbagai foto diri, masing-masing pribadi punya maksud ataupun motif tertentu dalam membagikannya. Tidak ada yang tahu pasti selain pribadi yang bersangkutan. Barangkali itulah yang ia senangi, atau malahan di baliknya ada penghargaan atas suatu kisah perjuangan pilu yang tak semua orang bisa tahu. Sering kali apa yang dianggap sebagai yang baik atau yang diusahakan dengan sepenuh hati bisa tiba-tiba runtuh karena gema komentar negatif seperti diberi daya sepuluh kali lebih besar dan itu membuat seolah apa yang pada dirinya baik tidak lagi berarti.

Maka dari itu bagi pengunggah, selain menguatkan hati, bersikap selektif serta kritis memahami konteks adalah piranti yang penting untuk menjaga diri sembari menikmati keseruan yang ada di jagat maya. Kemudian bagi penikmat, yang notabene menjadi pihak yang menanggapi, ada baiknya mencermati kecenderungan merundung–dengan berlebih-lebihan apalagi tanpa alasan jelas–terutama pada pribadi yang tidak dikenal dekat sama sekali. Karena konon ada petuah, bahwa bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan seseorang, melainkan apa yang keluar dari mulutnya. Ya, barangkali terlalu ideal, tapi apa salahnya dimulai dari diri sendiri dan saya pribadi mesti banyak-banyak belajar dan menjadi lebih teliti lagi dalam hal seperti ini.

Begitu luas dan dalamnya kehidupan di dunia maya ini, sehingga kadang gelap dan membingungkan. Saya menduga, kebingungan saya ini timbul barangkali karena budi dan hati saya sendiri belum terlatih otot-ototnya untuk paling tidak menentukan sikap. Karena kadang rasanya saya sok ingin mendamaikan semua pendapat di dalam kepala (atau jika sebenarnya tidak bertentangan, setidaknya membuatnya tidak terkesan sangat bertolak belakang, berpunggung-punggungan). Lalu saya malah jadi letih sendiri: pertarungan antara agree to disagree dan mengarahkan orang pada apa yang dianggap sebagai kebaikan, pertarungan antara mengapa menjadi anonim dan sulitnya menjadi diri sendiri, pertarungan antara memanfaatkan platform tanpa digugat apa pun dan berselancar penuh rasa ugahari; kedua-duanya menggambarkan sisi-sisi yang akan terus-menerus perlu didialogkan dengan penuh kesadaran supaya mencapai kedewasaan karena mempersalahkan lenturnya aturan tak selamanya dapat memperbaiki keadaan.

Perspektif ini telah berputar-putar sedari awal alinea dan mungkin tak tercium di mana solusinya. Akan tetapi, adalah baik untuk dipertimbangkan: bahwa karakteristik dari medan di mana jari-jari kita berpijak, dan segala pengalaman cyberbullying yang telah terjadi, suatu analogi samudra dan nelayan mungkin dapat dijadikan pedoman. Laut begitu luas dan dalam, ia memiliki keindahan berikut keganasan yang tak terperi. Sebelum bisa mendayung, menangkap ikan, melompat dengan gaya salto dari atas haluan, membaca rasi bintang, sebaiknya nelayan harus terlebih dahulu bisa berenang dengan baik untuk mempertahankan dadanya yang mungil kalau-kalau badannya terlempar di antara sapuan deras ombak-ombak.

Terlebih dahulu membekali kepala dengan sikap dan pilihan untuk dipegang (misal, menabur kata-kata yang menenangkan, akan menuai komunikasi yang penuh kedamaian), serta sadar mesti adaptif pula dengan keadaan, mungkin dapat mengurangi intensitas munculnya kebimbangan: saya mau ngapain, nih, di media sosial?–di mana kalau pertanyaan ini tidak dijinakkan dan diberi pawang, bisa-bisa lidah tergoda untuk berbicara tanpa dasar hingga bermain-main dengan perundungan. Alih-alih membawa berkah, malah melimpahkan musibah. Bertanggung jawab bukan hanya soal menanggung apa yang telah terjadi, melainkan, berpikir matang-matang sebelum melakukan.

Akhirnya perspektif ini saya tutup dengan kutipan Gurindam Dua Belas, karya Raja Ali Haji,

“Apabila terpelihara lidah, niscaya dapat daripadanya paedah.” (Pasal III)

“Jika hendak mengenal orang yang baik perangai, lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.” (Pasal V)

Barangkali demikianlah terjadi. Ajining diri ana ing lathi.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top