Sebuah Bentuk Perasaan Bernama Sedih

Dari segala macam perasaan yang Tuhan ciptakan di muka bumi, makhluk hidup bernama manusia berbondong-bondong ingin bertemu dengan perasaan yang bernama bahagia. Karena manusia tahu bahwa bahagia mampu menumbuhkan cabang-cabang perasaan lain dari perasaan bahagia itu sendiri. Rasa tenang, rasa tenteram, rasa nyaman, rasa nikmat, dan rasa hati yang berbunga-bunga adalah beberapa cabang dari rasa bahagia ini. Maka, tidak heran jika rasa bahagia adalah rasa yang selalu digambarkan dalam dongeng di taman kanak-kanak, dalam cerita di novel remaja, atau dalam posting-an seseorang di media sosial. Apa pun medianya, semua manusia yang mendengar atau melihat rasa bahagia turut ingin berjumpa dengan perasaan bahagia tersebut.

Tapi sayangnya untuk bertemu dengan rasa bahagia ini, Cinderella pun harus ditinggalkan ayahnya meninggal dunia dan cinta Severus Snape bertepuk sebelah tangan semasa hidupnya. Tak jarang, beberapa orang gagal untuk mencapai mimpi dalam hidup. Cerita-cerita tersebut merupakan gambaran akan sebuah perasaan yang bernama sedih. Acap kali, semua makhluk hidup, mulai dari manusia, hewan, bahkan hingga tumbuhan berusaha untuk tidak dikunjungi oleh rasa sedih ini. Perasaan yang sedih mampu meninggalkan beberapa luka yang terlihat maupun tidak terlihat. Perasaan seperti hancur, menderita, kecewa, dan sengsara adalah beberapa cabang dari banyaknya rasa yang dapat sedih berikan.

Tidak heran mengapa banyak manusia berusaha untuk tidak bertemu dengan rasa sedih. Tapi, sekeras apa pun mereka berusaha menghindar, rasa sedih selalu menemukan jalannya untuk bertemu, seolah-olah mendesak. Jika ada air dan api, perempuan dan laki-laki, sementara dan abadi, bukankah adil ketika Tuhan juga menciptakan perasaan bahagia dan sedih untuk dapat beriringan. Untungnya, Tuhan juga menciptakan perasaan dan pikiran agar manusia bisa berselaras dengan macam-macam perasaan yang telah dunia sajikan.

Ketika akhirnya mampu bertemu dengan rasa bahagia, biasanya manusia merayakannya dengan menikmati dan membagikan kebahagiaan tersebut. Sangat berbeda ketika harus berjumpa dengan rasa sedih. Banyaknya, yang terjadi adalah kepura-puraan dan keengganan bertegur sapa, seakan hidup berjalan baik-baik saja. Tapi, tidak enak rasanya untuk tidak dihiraukan. Untungnya, rasa sedih sangat gigih dan penuh ramah-tamah. Semakin diabaikan, rasa sedih tambah penasaran dan bahkan tegurannya bisa sangat mengejutkan. Oleh karena itu, tidak apa-apa menyapa rasa sedih ketika memang harus berjumpa. Toh ternyata Tuhan juga menciptakan perjumpaan dengan perpisahan. Seramah apa pun rasa sedih ini, ia tidak akan berlama-lama, karena bahagia juga turut ingin mengambil perannya.

4.5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top