Rumah

Katanya, rumah adalah tempat untuk kembali dari lelah yang telah dunia ciptakan di luar sana. Katanya, rumah adalah tempat di mana keluarga dapat menghabiskan waktu bersama, berbagi cerita tentang dunianya di luar sana. Katanya, rumah adalah rumah di mana ia tak akan mengecewakanmu saat ada di dalamnya.

Aku juga punya rumah. Rumah yang sudah kutinggali sejak aku dilahirkan ke muka bumi, rumah yang sudah menampung anak rumahan pendiam yang takut akan dunia di luar sana. Rumah yang aku terbiasa mendapatkan kenyamanan penuh di dalamnya. Awalnya, rumah ini dibangun untuk menaungi tujuh anggota keluarga pendiam, tidak begitu besar tapi mempunyai enam buah kamar untuk setiap anggota dengan privasinya masing-masing.

Dulu, aku sangat senang dengan rumahku. Siang dia terdiam. Malam dia bersorai. Kini, aku aku takut dengan rumahku. Siang dia mati. Malam dia menangis. Rumah yang diperuntukkan bagi tujuh anggota keluarga ini, satu per satu anggotanya beranjak pergi. Kepala keluarga meninggal dunia, putra pertama kedua dan ketiga kini punya rumahnya dengan segala kesibukannya, putra keempat hari ini mendapatkan pekerjaan pertamanya, dan sosok ibu yang kini sering meninggalkan rumah dengan senyum tertaut di wajahnya. Tersisa aku, putri bungsu yang senang sekali menangisi keadaan rumah yang sudah tidak dapat dikenali lagi. Aku hanya ingin makan bersama lagi, menertawakan kebodohan yang terjadi di rumah ini, dan tidur di malam hari bersuarakan rumah yang berisik dengan mereka yang menonton televisi.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top