Lekat dengan Kehilangan, Dekat dengan Kematian

Sayup-sayup rintihan itu terdengar ke seisi lorong yang pekat akan kegelapan. Di dalam jurang kesunyian, tak henti-henti meneriaki satu nama yang menambah daftar kepergian. Diguncangnya tubuh tak membalas, kaki tak beralas, wajah pucat pasi yang tak memberi isyarat akan pergi itu semakin menyesakkan rongga dada yang sedari tadi tertahan.

Dibalutnya raga tak bernyawa itu dengan sehelai pengharapan, didekapnya dengan derai isak tangis bercucuran, diselimuti dengan doa-doa kepergian, dan disaksikan langit-langit kamar yang kini menyisakan sejengkal sekat antara kehidupan dan kematian. Sungguh, nirwana atau neraka yang akan ia singgahi lebih dulu?

Di tengah tarikan napas penghabisan, percakapan itu terdengar:

“Siapa lagi setelah ini?” tanyanya sambil mengutuk diri sendiri.

“Kenapa harus dipertanyakan, jika kematian selalu datang tanpa bisa kita perkirakan?”

“Lalu, mengapa kita harus bersedih seperti ini?”

“Kau lupa, bukankah hidup ini hanya untuk meratapi yang pergi dan menangisi yang mati?”

“Apa kau juga lupa, bahwa kita akan mati juga?”

3.3 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top