Dialog Kupu-Kupu dan Beringin Tua

Dosa itu menyeruak, menenggelamkan, menyedihkan, pun nikmat. Membuat si kupu-kupu meninggi menyombongkan apa yang sudah ia raih. Sayap cantik bebas melayang menghujani hanya bunga. Bagaimana dengan si pohon beringin, sang kawan lama? Yang menunggu, melindungi, sebagai teduh yang tiada terkira. Sudah ratusan, ribuan, jutaan ulat bulu…pun sejumlah itu juga yang melupa si pohon beringin tua.

Suatu hari kupu-kupu melewati si beringin tua.
“Sudah lama kita tidak bersua Pak tua. Aku lihat tubuhmu sudah keriput dan rentan. Aku rasa ketika taufan datang, tubuhmu akan roboh. Aku bersedih… engkau tidak bisa bebas seperti aku hingga akhir hayatmu.”

Beringin tua hanya tersenyum menanggalkan daun rimbun. Di balik siliran angin, pohon beringin menuturkan, “Aku adalah rumah untuk ratusan tahun dari berbagai masa. Aku menampung si ulat bulu yang buruk rupa dan menyedihkan. Kerap kali sengaja aku patahkan rantingku agar si kadal terjatuh. Aku rimbunkan daun untuk gizimu untuk mengelabui sang burung pipit. Aku tumbuhkan ranting tertinggi di puncak tubuhku, untuk menjadi lengan yang engkau dekap saat hanya kepompong. Lantas apa lagi sedihku? Aku membebaskan engkau dari bentuk yang menjijikan menjadi sesuatu yang indah. Aku adalah tempat untukmu mengingat kebesaran Sang Pencipta. Aku sangat bersyukur menjadi si beringin tua, aku bersyukur jika taufan telah datang.”

Si kupu-kupu terpaku, sayapnya melemah hingga terjatuh di tanah basah. Meraung menangisi kasih yang tak tampak. “Maafkan aku Pak tua…maafkan aku telah lupa, keindahan dunia telah membutakan aku. Engkau lebih bebas, engkau tahu sekali tentang dirimu…sedangkan aku hanya terbang mencari bunga terindah hingga sayapku kerap luka. Terima kasih.”

Saat itu juga, kepompong baru menetas menerbangkan harapan baru. Kembali lagi, beringin tua hanya tersenyum…rumah itu begitu teduh.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top