Guratan Ekspektasi

Pertemuan yang tak pernah direncanakan dan dibayangkan terjadi begitu saja, sesuai alur yang sudah dilukis Tuhan. Semesta sepakat bahwa inilah yang terbaik dari sebuah kisah dipenghujung tahun.

Mereka bertemu di stasiun. Mungkin, bagi sebagian orang stasiun lebih dari tempat kedatangan dan kepergian, lebih dari tempat awal perjumpaan, lebih dari sapa yang sudah lama tak bersua, lebih dari ucapan sampai jumpa. Lebih dari itu, terdapat harapan, doa, rindu, dan kenangan yang melebur di dalamnya. Tapi, tempat perpisahan mereka  bukan di stasiun, melainkan di bandara. Pada setiap sudutnya, bandara paham betul betapa pilunya sebuah perpisahan.

Kisah ini berlanjut, tetapi terhalang jarak yang begitu membentang. Namun, persoalanya adalah bukan tentang jarak meskipun  tidak ada jembatan untuk membuat jarak menjadi tak berarti. Untuk sebuah temu? Sepertinya sujud adalah titik temu antara luka dan kesembuhan. Doa dapat mengubah segalanya untuk rindu yang tak pernah punya kepastian kapan ia akan tertebus. Tuhan menghadiahi temu untuk setiap insan yang merindu. Perjumpaan itu datang untuk kedua kalinya, belum ada rasa khawatir dan merasa takut untuk kehilangan. Hubungan ini masih berjalan dengan baik. Kata orang, kunci dari hubungan jarak jauh adalah komunikasi, dipertemuan kedua ini, komunikasi masih berjalan dengan baik.

Tapi, sebentar… setelah dia harus kembali ke kotanya dan beberapa bulan berjalan, kisah ini masih berlanjut tapi makin menggantung, belum ada kepastian apapun dari pria ini. Status sepertinya bukan hal yang harus diperdebatkan, karena kita sepakat bahwa cinta tidak melulu ditunjukkan melalui status. Bisa saja ditunjukkan  melalui sikap, perlakuan, dan hal-hal indah lainnya yang membuat kita berekspektasi tinggi tentang hubungan ini. Benar saja, seiring berjalanya waktu, timbulah rasa takut akan  kehilanganmu. Padahal, tidak ada alasan untuk saya gamang kehilanganmu. Karena, dari awal memang hubungan ini tanpa arah dan kejelasan, dan mungkin saya hanya sekadar lewat untukmu. Bodohnya, saya menganggapmu sebagai tempat berlabuh karena sikap kamu yang selalu membuatku luluh.

Dalam satu tahun ini, aku bertemu denganya 3 kali. Dan, tibalah di penghujung tahun. Tidak ada yang tahu apakah ini pertemuan terakhir atau bukan. Bertambah sebuah kisah dan kenangan manis di dalamnya, kami menjelajahi pusat keramaian kota Jakarta dengan hiruk pikuk serta senja yang indah. Ketoprak, bubur ayam, dan lagi-agi stasiun adalah pemanis kisah di dalamnya. Sesekali temu menyapa jeda, untuk menyapu rindu kemudian pergi membawa bahagia hingga lara.

Namun, pertemuan ketiga ini adalah pertemuan yang paling pilu. Di pertemuan ini, aku mulai berani untuk bertanya soal perasaan. Aku tidak ingin menerka-nerka, namun sikapnya belakangan ini memang sangat aneh. Dia selalu mengalihkan pembicaraan ketika sedang membahas soal perasaan. Sampai seterusnya tidak pernah ada kejelasan dalam hubungan ini. Mungkin, hanya aku saja yang mencinta, kamu tidak. Aku tidak tahu hal apa saja yang kamu lakukan di sana. Karena, kata mereka “yang jauh akan kalah dengan yang selalu ada”. Mungkin, kamu sudah menemukan orang baru yang membuatmu nyaman atau memang kamu sudah punya hubungan khusus dengan wanita lain di sana sebelum bertemu aku? Dan mungkin saja itu yang membuat pertimbangan kamu dalam mengambil keputusan mengenai hubungan ini mau dibawa ke arah mana.

Dari sini, aku belajar ikhlas. Benar, kita tidak bisa memilih pada siapa kita jatuh hati. Tidak ada yang salah di sini, kalau sudah berani mengambil keputusan untuk mencintai seseorang, maka harus rela menanggung segala resiko yang ada, termasuk merelakan seseorang. Karena, puncak dari mencintai seseorang adalah merelakan. Setiap bertemu orang baru pasti ada hal yang didapat di baliknya. Di penghujung tahun ini aku belajar, kalau kepahitan itu akan menjadi pembelajaran dan selalu ada hikmah dibaliknya, bahwa Dia amat pemurah dalam menunjukkan kebenaran  kepada siapa yang Dia kehendaki.

Oh iya, sebelum semua ini berakhir, katamu

Dihadirkan sebuah kisah
yang tak sampai sudah,
bahkan sudah usai sebelum memulai

Semesta punya rencana
lapisan durja
menginginkan kita dewasa

-Qil

 

Terima kasih untuk  segalanya.

5
Leave a Reply

avatar
5 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
5 Comment authors
HusnizoneFaiAnnisa ZainRosefajrinnta Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
fajrinnta
Guest
fajrinnta

??
Bahkan kisah kita sudah berakhir sebelum dimulai ?

Rose
Guest
Rose

Hey, terima kasih. Akhirnya tersalurkam❤

Annisa Zain
Guest
Annisa Zain

Beruntung sekali bisa membaca ini. Terima kasih, atas bantuan kecilnya.

Fai
Guest
Fai

Jatuh cinta dengan tiap aksaranya. Terima kasih karena sudah menulis.

Husnizone
Guest
Husnizone

Sungguh kisah yg mengharukan. Menanti kepastian atau akhirnya kepastian semesta lah yg menjelaskan segala nya

Top