Catatan Kontemplasi di Akhir Tahun

Sudah memasuki Desember, sebentar lagi menyapa tahun baru, inginku duduk sebentar, lalu menoleh ke belakang atas segala yang sudah terlewati. Aku langsung menjeda diri, larut dalam refleksi.

2021 ini tak bisa aku bilang sebagai tahun yang menyenangkan. Aku banyak memeluk sedih, beberapa kali akrab dengan segala kondisi yang selalu membuat peperangan dalam batinku sendiri. Segala bentuk perasaan bertema tidak baik-baik saja seakan silih berganti datang, tak ada ampun. Belum lagi ada sosok bernama sepi yang awalnya biasa, tapi lama-lama seperti terasa menyeramkan. Aku suka akan kesendirian, kemudian jadi mempertanyakan makna sepi yang semakin menjadi-jadi. 

Memasuki usia dua puluh, yang sering kudengar dari banyak orang, adalah salah satu momen terseram dalam hidup. Akan ada banyak permasalahan yang seolah selalu meminta perhatian. Dalam hatiku meyakini, bukankah permasalahan memang ada sedari dulu? Keyakinan tersebut tak lagi menjadi andalan, karena rasanya memang benar, permasalahan kini bukan hanya perkara ada, namun seakan semuanya menjadi lebih rumit. 

Semua hal yang awalnya kukira tak perlu dimengerti maknanya kini seakan menjadi materi baru yang perlu dikaji berulang kali. Ialah hal-hal mengenai suara diri sendiri, penerimaan, kedamaian, dan proses pendewasaan. 

Adakalanya aku merasa sudah paling mengerti tentang itu semua, tapi setelahnya tersadar bahwa aku masih perlu melakukan remedial; mencoba sekali lagi, atau bahkan mencoba berkali-kali di sepanjang perjalanan. Mungkin terkadang, ketika sebuah tantangan berhasil ditakluki, jumawa ini menjadi yang paling pertama. Kau tau apa setelahnya? Aku kembali terseok-seok pada kenyataan bahwa ada suatu bagian lainnya belum rampung terselesaikan. 

Pada akhir tahun ini, aku dapat sedikit menyimpulkan ternyata segala hal yang berkaitan dengan kehidupan nyatanya tak pernah mengenal selesai, selama diri ini masih memiliki nyawa. Setiap harinya akan menjadi proses pembelajaran dalam mengenal diri, berkenalan dengan penerimaan, perjuangan mendapatkan kedamaian, serta beriringan dengan proses pendewasaan. 

Wajar apabila merasa lelah selelah-lelahnya, syukurku tak ada tebersit keinginan untuk menyerah. Sembari mengingat perjalanan yang sudah sampai sini, telah banyak yang terlewati sebagai pertanda aku mampu, aku kuat lebih dari yang aku pikirkan sebelumnya. 

Yang terpenting, melalui tulisan ini, akhirnya aku menyadari bahwa aku bisa banyak mengambil makna atas segala yang sudah dilalui, serta menyadari bahwa nyatanya aku tak berada dalam kesia-siaan dalam menjalani itu semua. Aku semakin tersadarkan bahwa perjalanan inilah yang akan mengantarkanku menjadi manusia yang mampu membersamai makna akan kehidupan sesungguhnya.

4.8 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
6 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Elsa
Elsa
1 month ago

Indah banget, dari tulisan ini aku belajar untuk kembali mempercayai kemampuan diriku sendiri, yakin kalau apa yang aku perbuat selamai ini tidaklah sia sia.

Dickynau
Dickynau
1 month ago

Tulisan yang berdaya.

Prio
Prio
1 month ago

Belajar dari pengalaman yang sudah terjadi…

Menjauh dan menghindari
Keribetan dan keributan…

Selamat Tahun Baru 2022

shanda
shanda
1 month ago

adem banget hati pas bacanya🥺🥺

PopiF
PopiF
1 month ago

Terima kasih telah menulis kalimat yang indah dan bermakna 🤍

Top