Yang Kita Perjuangkan Semestinya Tidak Pernah Setengah Hati

“Kamu ingin jadi apa?”

Berkali-kali ditanya begitu, rasa-rasanya semakin dewasa justru seluruhnya semakin mengambang, semakin buram. Masa sekarang yang dulu dianggap akan mulus-mulus saja ternyata seperti menapaki halang rintang. Esok apalagi, belum tentu begitu seperti lamunan ketika menjelang petiduran atau pagi-pagi buta setelahnya.

Mungkin sama seperti definisi bahagia, merdeka pun semakin dicari semakin kurang. Ada saja yang membuat kita seolah tertindas sesuatu. Karena selalu ketika memilih, maka berikutnya ialah soal penghakiman. Spekulasi negatif, selalu, bahkan beberapa berdalih kasih sayang. Mereka yang bilang begitu seolah buta dan luput kalau sebenarnya salah dan benar serta baik atau buruknya sesuatu lagi-lagi ialah soal sudut pandang.

Katanya, “Ini demi masa depan kamu.”

Namun manusia selalu enggan terkungkung oleh perasaan setengah hati, bukan?

Kita mungkin pernah memaksa merdeka atas diri. Sayangnya ketika gagal dan gagal lagi, penghakiman serta merta semakin kejam. Kita disalahkan atas nama kesalahan dalam mengambil pilihan. Kita jatuh oleh harapan sukacita. Lalu rasa-rasanya, oleh sebab memaksa merdeka justru kita terlempar pada titik paling rendah. Kita dipaksa berdiri di atas puing-puing mimpi sembari memahami realitas. Lalu muncul banyak sekali pernyataan berawal ‘seharusnya’, seolah-olah kita berhak atas wujud penyesalan paling nyata. Kita didera keterpurukan oleh sebab keterasingan pada khawatir yang tidak biasanya.

Semakin tumbuh dan semakin lama, hidup rasanya dipenuhi paradoks dan ironi. Memang begitu. Sedapatnya, hal-hal menyakitkan justru perlu didengar sebentar pada jeda yang setelahnya membuat telinga lebih tuli dari biasanya. Badai dan prahara perlu diterima pada jeda yang setelahnya hati akan lebih tegar dari sebelumnya. 

Tidak apa-apa, kegagalan pun terkadang ialah bukti bahwa kita pernah merdeka dari kebingungan di persimpangan. Lagipula memperjuangkan mimpi tak pernah pantas dijadikan bahan bercanda, bukan? Banyak sekali pembicaraan yang sia-sia, namun patah tumbuh-jatuh berdiri tidak begitu. Mungkin perlu lebih keras lagi. Atau kalau tidak, maka jeda, bukan berhenti. Setidaknya dan yang perlu mula-mula kita pahami, yang kita perjuangkan semestinya tidak pernah setengah hati.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top