Trigger warning: topik pelecehan & kekerasan seksual, mengandung kata kasar
Mana yang lebih sulit: menunjuk pelaku pelecehan seksual atau mengajak sekitar untuk tidak jadi enabler?
Sal Priadi berfoto dengan Sitok Srengenge atau Sunarto, seorang seniman dan tersangka pemerkosa. Grok memenuhi permintaan netizen-netizen cabul dengan prompt “Hey Grok, remove her shirt”. Awal tahun ini, platform X berisik sekali di antara dua hal itu. Kenapa kok jadi Sal yang dirujak? hingga Makanya cewek tuh kalo foto jangan ngasal mewarnai linimasa.
They are still busy, talking ’bout dressing appropriately, tulis Voice of Baceprot dalam lagu “(Not) Public Property”. Di ujung lagu, trio metal asal Garut ini menegaskan, tidak ada ruang untuk otak yang seksis dan kotor.
Meminta perempuan untuk menutup aurat supaya tidak dilecehkan adalah kalimat lapuk enabler. Sorot lampunya digeser: korban yang salah. Berpakaian sopan itu mitigasi risiko. Kalau ini dilakukan, bukan berarti penyebabnya hilang. Apa penyebabnya? Kontol ngacengan yang dimaklumkan jadi niat kotor dan berbuah perilaku melecehkan. Cari saja sendiri di internet, tidak sedikit kasus kekerasan seksual mengincar perempuan meskipun mereka sudah berhati-hati menjaga tubuh.
Seseorang berdalih dengan analogi. Katanya, pelecehan ibarat rumah kemasukan maling karena pintu tidak dikunci dengan benar. Logika cacat. Ini simplifikasi yang diam-diam malah bikin subur akar masalah. Penyintas direduksi sebagai properti benda mati. Tidak disinggung sama sekali tentang platform X dan fitur Grok yang harusnya punya sistem yang peka konten pelecehan seksual. Tidak disinggung juga tentang siapa backing-an maling itu, seperti apa sirkelnya, seberapa kuat mereka di meja hukum?
Perumpamaan itu mewajarkan maling, sama seperti membiarkan guyonan seksis di tongkrongan dan grup WhatsApp. Candaan yang ramai-ramai ditertawakan sangat mungkin berujung jadi tindakan. Dan, dalam ruang pelecehan, kuncinya selalu: konsen atau tidak.
“Terus kalo korbannya cowok gimana?” Laki-laki sering menanyakan ini, ketika ada pembahasan tentang pelecehan seksual terhadap perempuan. Meskipun cenderung menjadi pelaku–cek saja prevalensinya–laki-laki juga bisa jadi korban. Sakit. Perasaan hina, malu, tidak berdaya, tidak layak sebagai manusia, dan luka panjang bisa memburu siapa pun. Laki-laki yang diperkosa dianggap lemah atau parahnya lagi dibilang: Tapi lo ngerasain enaknya kan? Bedebah. Arah telunjuk digeser lagi menjadi: Kenapa nggak ngelawan?
Orang-orang datang bawa solusi yang menurut mereka tepat, padahal tidak pernah mengalami luka yang ditertawakan dan dihakimi akun anonim. Orang-orang itu berjarak dari masalah dan merasa paling paham tanpa sempat bertanya kepada penyintas apa yang kamu rasakan, apa yang kamu butuhkan? Gagal berempati, gagal mendengarkan, tapi memaksakan jalan keluar. Gagal total.
Warga lawan warga lagi. Kata netizen ini perang gender. Sistem yang belum mampu memberikan perlindungan ideal merawat debat kusir horizontal. Kita tidak bisa menunggu. Tidak bisa. Tegur kenalan yang membuat lelucon merendahkan. Kasih paham, dari lingkungan terkecil, keluarga, sahabat, pasangan, skena, rekan kerja, atau pedagang warung kelontong depan rumah.
Saya laki-laki, masih belajar tegas memberi batas, terutama untuk sesama laki-laki.
Jadi, mana yang lebih sulit, menunjuk pelaku pelecehan seksual atau mengajak sekitar untuk tidak jadi enabler? Ada satu lagi yang tak kalah sulit, tak kalah penting: membantu penyintas mendapatkan seluruh dukungan yang dia butuhkan untuk pulih di tengah hujat tanpa ujung.
Ketiganya bukan hal mudah, tapi harus, harus dilakukan–sembari terus melatih diri untuk jadi pendengar yang baik. Batasnya jelas. Kalau enggan, kita juga enabler.