Pulang ke Rumah

Aku tidak akan pernah menemukan tempat indah, layaknya mataku yang merasakan nyaman saat senyummu hadir di sofa beranda rumah; saat matamu memelukku erat tanpa harus berpelukan, dan hangatmu kian terasa tanpa harus menggenggam. Di situ pula harapku mulai ingin bertaruh, aku gantung di langit-langit rumahmu, lalu ia tumbuh menjadi sebuah mimpi indah di tidurmu.

Entah kemarin, seminggu yang lalu, ataupun ratusan hari lalu, kita membeli serta menata tanaman bersama; antara bunga mawar berduri dan lembutnya bunga matahari akan ditempatkan sebelah mana. Ada juga bunga melati yang kita tempatkan paling spesial, karena wanginya yang kita senangi. Tapi nyatanya bunga-bunga itu bersedih, pemiliknya tidak bisa bertoleransi.

Tidak ada akhir yang benar-benar berakhir, tidak ada ikhlas yang benar-benar tuntas. Sesuatu berhak untuk pergi, dan pasti akan kembali pulang; memperbaiki kesalahan dari titik tertinggi, memaklumi maknanya dari titik terendah. Pada tepat waktunya, aku tidak bisa bekerja sama dengan waktu yang terus beranjak maju. Waktu sesekali terasa mundur dengan beribu kenangan di istana megah yang pernah aku tempati, membuka rekam jejak pelayaran kapal kecil yang bersauh jauh mengelilingi samudera biru. Terkadang aku pun malu pada cermin yang selalu melihat senyum palsu, malu pada semesta bahwasanya aku baik-baik saja; sibuk berkompetisi menjadi manusia yang baru, mencari agenda yang menyenangkan walaupun itu tanpa tubuh. 

Doakan aku yang sedang mengarungi perjalanan menuju ke rumah; melawati beribu kenangan di seisi pikiranku, bernapas tersenyum lega serta bahagia. Aku akan kembali menata tanaman-tanaman, dan membelikannya pot baru dilapisi harapku lagi. Semoga kamu ada di sana ya, tunggu aku.

4.8 6 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Elsa
Elsa
1 month ago

Kata-katanya indah. Makasih telah mengingatkanku tentang rumah.

Top