Di Jam Lima Sore

Di jam lima sore, dunia seakan mendadak dikejar anjing ganas. Semua seakan terburu-buru, berlari untuk sampai secepatnya. Jalanan penuh dengan kendaraan, kini waktunya acara ‘kemacetan’ dimulai. Ujian kesabaran berwujud lampu merah siap berkelip, rangkaian klakson menjerit tak tertahankan, mereka gagal ujian.

Di jam lima sore, kereta berdesakan pertanda ratusan orang siap menyambut rumah. Kanvas ekspresi bernama raut wajah terlukis beragam di wajah para penumpang: tatapan kosong, bibir cemberut, mata berbinar, wajah tertunduk, kantung mata berkantung, kelopak mata hitam. Berbagai pikiran bernyanyi di kepala, sangat berisik, seakan ingin berlomba dengan bisingnya suara mesin kereta.

Di jam lima sore, keluarga itu menanti para pencari nafkah menjejakkan langkah di rumah. Aroma ayam goreng dan sambal bawang sudah menyeruak, tak sabar menanti untuk dilahap. Suara TV yang menyuguhkan kartun kesukaan si bontot menjadi latar musik yang asyik. Wajah penuh seri menghias setiap insan yang menanti di rumah sederhana yang hangat itu. Semoga cepat pulang, harapnya.

Di jam lima sore, yang sudah dinanti-nantikan. Segala kebisingan itu termaafkan dengan caranya sendiri. Tak akan ada protes yang hadir. Kita begitu saling memahami. Kebisingan itu hadir karena bayangan keluarga kecilmu yang menanti di rumah. Kebisingan itu hadir karena tak lagi sanggup menahan bisingnya makian atasanmu seharian. Kebisingan itu hadir untuk meredam bisingnya suara perut yang kelaparan. Kebisingan itu hadir karena hari ini begitu melelahkan, maka tak sabar ingin melepas rindu dengan kasur tersayang. Kebisingan itu perayaan untukmu yang telah berjuang di medan perangmu hari ini. Setelah ini kau sudah dipersilakan rehat sejenak untuk menyambut kebisingan lainnya di esok hari. Kebisingan itu, kebisingan yang dinanti. Begitulah jam lima sore menyapamu.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top