Tahun-Tahun Penuh Luka

Rumah adalah sebaik-baiknya tempat pulang

Lia bingung dengan makna kalimat itu. Ia tak pernah paham, tak pernah mengerti, dan tak pernah tau, bagaimana asal mula terciptanya kalimat seperti itu. Baginya, rumah bisa seperti neraka, tak pernah ia dapatkan ketenangan di sana.

Aku mengatakan padanya bahwa bagi sebagian orang, rumah merupakan segalanya, karena di sana ada keluarga; keluarga yang akan selalu dengan lapang menerimamu kembali setelah perjalanan panjang yang kau lakukan. Bagiku pun begitu. Tapi lagi-lagi Lia hanya mengernyitkan dahi, ia heran.

“Aku bahkan enggak tau keluargaku butuh aku pulang atau enggak,” katanya ragu.

Sudah lama Lia pergi meninggalkan keluarganya dengan alasan merantau; ingin hidup mandiri. Padahal dalam hatinya ia menjerit. Hanya dengan alasan itulah ia bisa pergi dari rumah untuk mendapat ketenangan. Ia tak nyaman bila terus berada di rumah. Kedua orang tuanya terlalu sibuk entah mengurus apa sedangkan Lia hanya akan jadi bahan omongan jika ia tak melakukan apa pun di rumah. Bahkan dulu, saat Lia sedang sakit, saat ia hanya bisa berbaring di kasur, orang tuanya yang baru saja tiba entah dari mana itu akan memberikan sindiran pedas habis-habisan karena mengira Lia hanya gadis pemalas yang senang bermalas-malasan.

“Ah, aku salah lagi.” Pikirnya kala itu.

Semenjak memutuskan untuk pergi, ia tak pernah menghubungi keluarganya. Sudah hampir dua tahun lamanya. Perlakuan keluarganya yang selalu menyalahkan Lia begitu membekas, membuat perih yang selalu tumbuh dan mengakar.

Selama dua tahun itu, perjalanan hidup Lia tak seindah yang ia harapkan. Akan ada saat-saat di mana ia begitu terpuruk, merasa begitu sedih juga gelisah. Semua itu tak pernah ia bagi pada siapa pun. Mungkin sedikit ia bagi denganku atau kawannya yang lain, tapi yang ia pendam lebih banyak. Bahkan di saat seperti itu, tak pernah terpikirkan olehnya untuk pulang.

“Aku bahagia di luar, tapi kalau aku balik ke rumah, yang ada cuma sakit, perih. Aku tau ini salah, aku ngerasa enggak seharusnya gini, tapi aku enggak punya pilihan lain. Aku bahkan enggak tau, aku bingung aku mau pulang ke mana,” ucap Lia.

Aku tau, sakit yang membekas di hati Lia bukan masalah sembarangan. Aku tahu, persoalan tentang keluarga memang begitu menguras emosi. Pasti sulit bagi Lia untuk memercayai sembarang orang, mengingat bagaimana keluarganya tidak pernah menanamkan kepercayaan pada Lia. Aku tahu Lia pasti lelah, tapi tak ada yang bisa menyelesaikan semuanya kecuali dirinya sendiri. Dua tahun adalah waktu yang lama, apalagi jika sepanjang dua tahun itu kau dipenuhi oleh luka.

Setelah mendapat kabar dari kerabatnya bahwa ibunya jatuh sakit, aku memaksanya untuk pulang. Lia harus pulang, ia harus membuka diri dengan keluarganya, minimal ia harus jadi anak yang berbakti, menemani ibunya yang sudah renta.

Beberapa bulan setelah itu, Lia menghubungiku. Suaranya begitu jernih di tengah sambungan telepon yang putus-putus. Selama beberapa tahun berkawan dengan Lia, aku tau ini adalah Lia yang berbeda, Lia yang lebih hidup.

Lia banyak bercerita tentang orang tuanya. Bapak dan ibunya tidak tumbuh di keluarga yang selalu terbuka, selalu berbagi cerita, atau saling berkeluh kesah. Oleh karena itu, mereka sulit menerapkan hal seperti itu kepada keluarga. Mereka sibuk bekerja, sibuk berusaha memenuhi kebutuhan Lia tanpa pernah menanyakan apa yang Lia rasakan, apa yang Lia inginkan, ataupun bagaimana Lia menjalani hari-harinya. Saat Lia kembali pulang, ia menangis melihat kondisi ayah dan ibunya yang ternyata sudah sangat tua. Segala perih dalam hatinya ia ungkapkan, ia utarakan segala alasan yang membuatnya tak nyaman, ia kesal karena selama ini orang tuanya juga tidak mencarinya. Ia marah, tapi juga merasa bersalah. Selesai menceritakan bagaimana perasaannya selama ini, tak lupa ia mengucap maaf. Maaf karena telah pergi terlalu lama, maaf karena terlambat untuk jujur.

Tak ada yang terlambat, kataku. Lia juga mendengar permintaan maaf dari keluarganya. Maaf karena tak terbiasa untuk saling terbuka, maaf karena tidak pernah bersedia mendengar isi hati Lia sejak lama.

Memulai untuk terbuka memang bukan sesuatu hal yang mudah, terlebih ketika kita tidak terbiasa untuk itu. Tapi aku percaya, entah dengan sunyi yang mencekam atau dengan tangis yang tumpah, pasti akan ada cara untuk memulainya.

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
ais_yulianaDindasaurus Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Dindasaurus
Guest
Dindasaurus

Rumah itu, nggak selamanya indah.. Kadang juga bikin gelisah gundah gulana merana wkwk. Bagi saya merantau bisa jadi obat, biar bisa kangen lagi sama rumah. Hehehe

ais_yuliana
Guest
ais_yuliana

Komunikasi itu seharusnya dua arah Tapi itu juga bukan hal yang mudah Orang tua ingin didengar Orang tua ingin dimengerti Tapi tak semua orang tua juga ingin mendengarkan dan mengerti isi hati sang anak Tidak salah penulis menulis cerita diatas Karena memang nyatanya tidak semua yang kebanyakan orang anggap itu sebuah rumah diiyakan oleh sebagian orang Rumah bisa menjadi bumerang bagi anak Merantau adalah salah satu alasan untuk menutupi kesedihan, kekecewaan, dan ketidak percayaan orang tua kepada anak Namun, aku percaya ada anak yang diam diam pula mengutarakan pada Tuhan agar menjaga orang tua nya yang jauh disana Dan ada… Read more »

Top