Racikan Semesta

Bercerita tentang pertemuan, banyak sekali yang ingin kubagikan. Salah satu yang kuingat, pertemuanku dengan seseorang. Pertemuan pertama kami sangat tidak spesial. Sejauh yang kuingat, kami hanya melihat, bukan menyapa ataupun menatap. Saat melihatnya, aku bergumam dalam hati, “Ahh … dia orangnya,” itu yang kupikirkan. Aku tidak tahu apa dia juga memikirkan hal yang sama, tapi dari gelagatnya, ia bahkan tidak ambil pusing dengan kehadiranku saat itu.

Waktu berlalu. Padahal kami punya cukup banyak kesempatan untuk saling mengenal, tapi kami masih belum mau mengenal, belum juga berniat untuk saling menyapa. Tidak ada bahan obrolan untuk dibicarakan, bahkan tak juga ada keinginan untuk membangun sebuah obrolan. Namun ternyata, semesta memiliki resep rahasianya tersendiri. Semesta meracik pertemuan-pertemuan lain untuk kami. Pertemuan yang memaksa.

Kami dipaksa bertemu dalam sebuah perjalanan; ditemani terik matahari, bising klakson kendaraan, suara lirih kereta api di kejauhan, peluh yang luruh, langkah berat, serta haus yang mengikat. Dalam keadaan-keadaan seperti itu kami dipertemukan. Mau tidak mau, kami memulai pembicaraan. Basa-basi singkat serta leluconyang sebenarnya tidak lucuterpaksa kami lontarkan, untuk saling menguatkan.

Entah sejak kapan, aku mulai lupa bahwa dulu kami pernah menjadi asing bagi satu sama lain. Resep rahasia semesta menjadikan kami yang awalnya asing, kini bisa menjadi begitu dekat. Aku bahkan tak habis pikir, bagaimana kami bisa sebegitu asing di masa lalu.

Cerita pertemuan setiap manusia dengan manusia yang lain memang unik. Ada yang bisa membuat berdebar, ada yang bisa membuat tersenyum sepanjang malam, ada yang tak begitu berarti, juga ada yang bisa menyakiti, membuat sesak, bahkan membuat menangis dalam sunyi. Pertemuan itu ada untuk menjadi cerita, entah dengan siapa, entah hanya sementara atau selamanya.

Setelah dipikir-pikir, tidak ada kata terpaksa dalam pertemuan kami. Kami tidak terpaksa untuk memulai obrolan, kami tidak terpaksa untuk saling mengenal, kami tidak terpaksa untuk menjadi akrab dan dekat.

It just happens.

Sepertinya, sebelum kita memulai untuk saling sapa, hati kita sudah lebih dulu bertemu sejak lama.

4.7 6 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top