Pulih

Tahun yang baru, hari yang baru. Katanya juga awal yang baru.

Menurut saya, tidak selamanya tahun yang baru diawali dengan segala yang baru. Tidak selamanya kita selalu membuat rencana-rencana baru, impian baru, harapan baru, pun resolusi-resolusi baru. 

Adakalanya kita hanya melanjutkan rencana lama yang telah kita susun, impian yang telah rakit, juga harapan yang selalu kita dambakan. Hanya saja semua itu dibalut dengan semangat yang lebih baik, lebih membara.

Hidup itu berjalan dan berkelanjutan. Hidup tidak hanya perihal membereskan satu hari, kemudian keesokan harinya memulai hari yang benar-benar baru lagi, meninggalkan semua hal yang telah kita lakukan pada hari kemarin. Segala hal baik dan buruk yang kita lakukan hari ini akan kita temui hasil dan akibatnya di hari esok. Begitu seterusnya, sampai kita menemui kepastian hidup, yaitu mati.

Untuk perlu mencapai Z kita perlu mengeja mulai dari A, B, C, dan seterusnya. Untuk perlu mencapai 100, kita perlu menghitung mulai satu, dua, tiga, dan seterusnya. 

Ibarat seorang pelukis yang bersiap untuk menghasilkan karya yang indah, ia membutuhkan kanvas, kuas, cat, juga paletnya. Jika hari ini ia habiskan untuk memenuhi kanvas putih itu dengan berbagai corak dan warna, jika hari ini sudah habis untuk menyelesaikan lukisannya, ia butuh hari esok untuk mencuci kuasnya, paletnya, juga merapikan tempat yang ia jadikan tempat terbaik untuk melukis, memindahkan kanvasnya ke tempat yang aman, bahkan mungkin mengirimkan hasil lukisannya pada seseorang. Ia membutuhkan hari baru untuk membereskan apa-apa yang telah ia mulai di hari kemarin, agar kemudian ia bisa melanjutkan hal yang baru lagi; menggambar lukisan indah yang lain.

Lihat, ‘kan? Hari yang baru tidak selamanya benar-benar baru. Kita masih bisa dan masih boleh untuk melanjutkan apa-apa yang telah kita mulai pada hari kemarin. Karena hidup selalu berjalan dan berkelanjutan.

Dari proses-proses berkelanjutan itu, ada satu yang banyak dilupakan setiap orang, ialah pulih, pulih dari luka atau keputusasaan lama yang pernah menjerat. Kita butuh pulih untuk bisa melanjutkan hidup dengan baik, dengan lebih kuat. Kita harus pulih terlebih dahulu sebelum akhirnya bisa menemukan harapan baru.

Dalam perjalanan hidup yang berkelanjutan ini, pastilah kita menemui tantangan. Tantangan akan terus menghampiri, terjadi, dan berkelanjutan, seperti ombak pantai yang tak pernah tenang meski hari menginjak malam. Tantangan akan terus datang, hanya saja mungkin beralih rupa, atau berubah nama. Adakalanya tantangan-tantangan itu membuat luka, meninggalkan kecewa, bahkan menumbuhkan keputusasaan. 

Lembaran masa depan seperti lembaran kosong yang bisa kita isi dengan sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang sudah kita torehkan hari ini. Oleh karenanya, sebelum benar-benar beranjak, sebelum melanjutkan perjalanan, sebelum memulai awal yang baru, setidaknya kita harus pulih terlebih dahulu, pulih dari luka; kecewa; dan pulih dari sisa-sisa keputusasaan. 

Anehnya, tidak ada cara pasti ataupun panduan khusus yang menjelaskan tahap demi tahap untuk pulih dari luka, sembuh dari kecewa, dan bebas dari putus asa. Karena pada dasarnya yang dialami setiap manusia berbeda. Selama ini manusia hanya diseret oleh waktu: tertekan, terbentur, menangis, sesak, hingga akhirnya menerima, melepaskan, memaafkan. Benar, sejauh ini, kita hanya dipaksa sembuh karena waktu terus berjalan. 

Tapi sebenarnya, dari usaha waktu menyeret manusia itu, ada berbagai rasa yang bisa kita pelajari. Rasa-rasa itu, saya menyebutnya sebagai ‘pengalaman’, pengalaman yang diajarkan oleh waktu, dan dikerjakan oleh hati. 

Dari pengalaman-pengalaman yang waktu berikan untuk manusia, kita bisa belajar. Dalam hidup, untuk bisa beranjak sepenuhnya, kita perlu pulih. Untuk bisa pulih, perlu ada beberapa kenyataan yang harus kita terima, kita lepaskan, pun kita maafkan.

3.2 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top