Pamit dari Luka

Aku sudah berhasil melepaskan, setelah merayakan banyak kehilangan dalam waktu yang hampir bersamaan.

Kata orang, pernikahan adalah salah satu momen bahagia dalam hidup; itu benar. Aku juga merasa seperti itu, ketika orang yang kaucintai juga mencintaimu.

Selepas hari bahagia itu, aku dan suami masih terus menjalani hari-hari penuh kebahagiaan, meski di sela-selanya juga ada sedikit tengkar terkait hal-hal sederhana dalam rumah tangga. Kenapa tidak meletakkan handuk pada tempatnya, kenapa lupa mematikan keran air, atau kenapa terlambat bangun, dan banyak lainnya. Tapi semua itu bisa kami lewati dengan komunikasi yang baik.

Ketika aku mengandung anak pertama kami, saat itu adalah momen paling bahagia sekaligus mengharukan dalam hidup. Kami saling menjaga, saling mengasihi, dan saling memperhatikan. Suamiku jadi lebih sering memperhatikanku, memastikan aku dan calon anak kami selalu baik, sehat, dan bahagia. Tapi rupanya semesta punya rencana berbeda. Di usia kehamilan yang baru mencapai dua bulan, aku mengalami keguguran. Dokter mengatakan penyebabnya adalah karena aku kelelahan. Aku terpuruk, merasa bersalah, dan disalahkan. Kami belum terbiasa dengan situasi seperti ini: kekecewaan yang teramat dalam.

Semua menjadi salahku, karena tidak bisa menjaga calon bayi kami dengan baik. Bahkan saat aku mengalami keguguran untuk kedua kalinya, saat aku benar-benar membutuhkan penenang dan pendukung untuk mengatakan tak apa, semua baik-baik saja, ia tak ada. Tak juga mengajakku bicara selama hampir dua minggu lamanya.

Aku semakin bingung, setiap hari yang kulakukan hanya memikirkan masalah yang bahkan tidak tahu harus kulalui dengan cara apa, bertindak seperti apa, berbuat apa, atau bagaimana menghadapinya. Yang kutahu, Tuhan belum berkehendak, tapi yang ia tahu, aku yang memang tidak bisa menjaga anak.

Perlahan visi-misi kami berubah. Nada yang awalnya seirama, langkah yang awalnya searah, kini tak lagi sama. Ada banyak kekecewaan di antara kami, ada banyak perubahan, termasuk tentang perasaan.

Pernikahan berumur empat tahun itu kandas. Bukannya tak berusaha untuk mempertahankan. Sudah kulakukan, sudah kami lakukan segala usaha untuk mempertahankan. Tapi aku tak bisa selamanya menahan orang yang tak pernah ingin tinggal.

Berat sekali rasanya, aku seperti kehilangan banyak hal dalam waktu yang hampir bersamaan. Rasanya hidupku hanya berisi kesedihan, yang kulihat hanya dunia hitam putih kelabu. Aku lupa bahwa masih diberi hidup adalah suatu kebahagiaan. Aku terlalu sibuk mencari cara mengikhlaskan dengan instan, sampai aku lupa untuk mensyukuri segala hal. Anehnya, di tengah kesedihan itu, ada rasa lega yang tak bisa kujelaskan.

Satu hal yang kutahu, bahwa tidak ada yang salah dari pernikahan. Hanya saja saat itu, kami belum begitu dewasa, kami belum begitu sabar menghadapi banyak hal. Memang sudah seharusnya harapan-harapan bersama dibicarakan sejak awal sebelum akhirnya memutuskan untuk benar-benar berlayar. Ini adalah pelajaran besar untuk diriku sendiri.

Satu tahun berlalu, dua tahun, tiga tahun, aku bangkit secara perlahan. Aku kembali menata hidupku, menyibukkan diri dengan pekerjaan, juga menghabiskan waktu dengan keluarga dan kawan. Aku membuka lembaran baru, aku tidak ingin hidupku berakhir dengan kisah pilu seperti itu. Aku mulai membuka diri dengan dunia luar, kembali berdamai dengan keadaan.

Aku sudah berhasil melepaskan. Melepaskan anak yang pernah kukandung, melepaskan ia yang tak benar-benar ingin tinggal, juga melepaskan perasaan sakitku sendiri. Melepaskan yang sesungguhnya memang butuh waktu. Selama mencapai masa itu, kubiarkan diriku menemui rasa sakit, penyesalan, juga kegelisahan, untuk belajar menjadi aku yang lebih kuat.

3
Leave a Reply

avatar
3 Comment threads
0 Thread replies
1 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
B.birDindasaurusRizkiana Sidqi Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Rizkiana Sidqi
Guest
Rizkiana Sidqi

Doaku untukmu, Kak.. semoga sembuh sebenar-benarnya akan segera dan senantiasa menyertaimu 🙂

Dindasaurus
Guest
Dindasaurus

Tulisan yang menyentuh banget, jadi bisa belajar sedikit sedikit buat lebih dewasa

B.bir
Guest
B.bir

Saya juga merasakan kehilangan anak pertama saya lalu kehilangan rumah tangga saya juga. Saya tau sekali gimana rasanya. Semoga kita disembuhkan dari luka dan berbesar hati menerima kehilangan.

Top