Memulai dengan Jujur

Semakin tak ada yang menghargai, rasanya semakin kecil kemungkinan dunia menganggapmu ada.

Apa pengakuan dari orang lain sepenting itu?
Iya. Kadang aku merasa begitu. Seolah hanya dengan cara itu dunia bersedia mendukungmu.

Padahal nyatanya aku hanya butuh aku. Aku yang percaya bahwa aku bisa, aku cukup.

Tidak sekali dua kali aku berpikir bahwa aku hanya bisa menulis puisi, menulis cerita pendek menyedihkan, atau kata-kata motivasi yang sebenarnya kutujukan untuk diriku sendiri. Aku tak punya banyak sertifikat untuk dicetak, apalagi dipajang di ruang keluarga. Aku juga tak punya banyak piala yang bisa digunakan untuk menghias ruang tamu agar siapa pun yang bertamu terpana saat melihatnya. Aku sedih karena rasa-rasanya apa yang kukerjakan tak cukup membanggakan, tak seperti mereka-mereka yang gemar mengoleksi trofi atau medali.

Aku tak seperti mereka, aku hanya bisa ini, aku hanya begini, aku hanya seperti ini. Dengan pemikiran seperti itu, sulit rasanya untuk tidak merasa rendah diri, terlebih ketika melihat kanan-kiri yang banyak sekali pencapaiannya. Padahal jika mau yakin dan percaya pada diri sendiri, segala “hanya” yang kita punya bisa menjadi kunci untuk terus maju dan berkarya.

Kita tau kita bisa, tapi kadang kita masih saja butuh orang lain untuk mengakui bahwa kita bisa.

“Padahal nyatanya aku hanya butuh aku. Aku yang percaya bahwa aku bisa, aku cukup.”

Belajarlah menjadi diri sendiri dengan cara yang jujur. Jujur dengan perasaanmu sendiri, jujur dengan keadaan. Jika bahagia, tertawalah; jika sedih, menangislah; jika lelah, istirahat; jika khawatir, tak ada salahnya merasa gelisah. Hatimu juga bersuara, dengarkan dia.

Sudah ya, jangan biarkan hidup kita digelisahkan oleh sebuah penilaian dan pengakuan orang lain. Akui dirimu, hargai dirimu, jujur dan percaya pada dirimu.

Belajar jujur dengan diri sendiri, dengan begitu orang lain akan mengakuimu dengan sukarela.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
ais_yuliana Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
ais_yuliana
Guest
ais_yuliana

Yang aku rasakan, semakin bertambah dewasa, dunia semakin fana
Semakin bingung untuk berkata jujur pada diri sendiri
Semakin semakin yang aku rasa dan pikirkan
Dan semakin kemana mana ekpektasi baik ataupun buruk yang ada di pikiran ini
Sedih terkadang mengetahui hal ini
Namun, aku juga belajar dari hal itu
Belajar mengiyakan bahwa hal itu normal
Tetap melakukan yang terbaik untuk diri ini dan berharap juga berdampak baik untuk orang lain
Hidup terkadang melulu juga tentang orang lain
Tidak boleh egois
Dan aku juga belajar bahwa aku akan tetap mencintai diriku sebagaimana diriku yang ada ini (dalam kebaikan dan kemanfaatan)
-salam hangat, untukmu, penulisku-

Top