Memahami Kekuatan

Perihal ungkapan aku hebat, aku cukup baik, aku mampu, aku bisa banyak hal, aku ahli dalam hal ini, rasa-rasanya sampai saat ini belum kutemukan alasan yang tepat untuk menjabarkannya. Bukan hanya aku, bisa juga kamu, kita, atau mereka. Sulit sekali mengakui bahwa aku bisa, aku mampu, bahkan ahli dalam hal tertentu. Kebanyakan dari kita masih terlalu sulit untuk memercayai diri sendiri.

Sejauh ini, membandingkan diri sendiri dengan orang lain rasanya menjadi satu-satunya keahlian yang paling bisa kulakukan. Bukan hanya aku, bisa juga kamu, kita, atau mereka.

Dia sederhana gitu aja cantik, kok aku enggak ya?
Dia enggak belajar aja bisa pinter gitu, aku belajar terus kok gini-gini aja?
Dia umur segitu udah sukses dan terkenal, aku kerja pagi siang malam masih gini-gini aja.
Dia hidupnya bahagia banget, enggak ada sedih-sedihnya. Aku mau seneng aja enggak tau gimana caranya.

Tanpa kusadari, dari hasil membandingkan diri sendiri dengan orang lain itu aku mendapat banyak luka. Luka yang kusayat sendiri. Berulang kali aku mengatakan, “Tak apa, kamu juga bisa, kamu juga hebat”, nyatanya aku terluka. Aku masih terus menanyakan apa yang spesial dari diriku, apa yang bisa kulakukan, juga apa kehebatanku?

Pernah sesekali, kudengar beberapa pujian berhasil menemuiku setelah aku menunjukkan hasil kerjaku kepada mereka.

Hebat banget ya kamu!
Keren banget kamu tuh!
Wah kamu kok bisa sih? Hebat!

Tapi apa yang kulakukan? Malah balik bertanya. Bertanya kepada yang melontarkan pujian, juga kepada diri sendiri. Hebat apanya? Keren apanya? Tanpa kusadari, aku mulai tak menghargai segala usaha yang telah kulakukan.

Pujian itu kuubah menjadi pertanyaan untuk diriku sendiri karena aku merasa belum cukup baik, dan belum cukup pantas untuk mendapatkan pujian sesederhana itu. Tak jarang, aku justru bingung harus bertingkah atau memberikan tanggapan seperti apa ketika mendapat pujian selain menolaknya. Padahal, aku bisa saja menerimanya dengan sederhana, dengan ucapan terima kasih yang tulus. Bukankah dengan begitu pujian itu bisa benar-benar menjadi milikku? Menjadi kekuatanku; menjadi hal istimewa yang kupunya.

Ibarat tanaman yang hanya bisa hidup di air. Sebanyak apa pun dan seluas apa pun tanah subur yang ada di permukaan bumi, selama tak ada air di sekitarnya, tanaman itu tak akan bisa bertahan lama. Sebab air adalah kekuatannya. Ia butuh air untuk menjadi kuat, untuk tumbuh dan hidup. Aku juga, aku akan tumbuh sempurna, kuat dan indah selama aku tahu kekuatanku. Kamu juga harusnya begitu.

Aku kuat karena aku paham letak kekuatanku. Aku hebat karena aku bisa percaya kepada diriku.
Bukankah seharusnya seperti itu?

4.3 4 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top