Kita, Malam, dan Waktu Luang

Malam itu aku bicara cukup banyak. Semua hal yang kualami hari itu kutumpahkan pada manusia yang tengah duduk di hadapanku. Ia menatap ke segala arah, mendengarkan. Kami menghabiskan malam di balkon dengan secangkir teh hangat untukku dan segelas kopi pahit untuknya.

Ia mendengarkanku dengan penuh dan saksama, mengangguk-angguk beberapa kali, entah menyetujui atau memahami keluh kesahku. Selesai aku bicara panjang malam itu, ia masih diam, beberapa kali mengembuskan napas berat. Aku tertawa. Ia menatapku bingung.

Aku tertawa karena merasa lucu melihatnya. Aku tau ia tengah berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk melemparkan respons dari seluruh ceritaku malam itu.

“Enggak usah dipikir jawabannya,” kataku sambil tertawa kecil. Ia tersenyum kaku. Bingung. Juga malu karena ketahuan sedang berpikir untuk menjawab seluruh kisah hidupku yang kutumpahkan padanya, seperti berusaha membantuku menemukan jalan keluar atas segala permasalahan hidup.

“Berat … ,” ucapnya sambil mengembuskan napas.

“Hahaha,” aku tertawa.

“Malah ketawa. Serius ini.”

“Kan aku udah bilang, enggak usah dipikir berat-berat. Kamu mau dengerin aku ngoceh selama ini juga udah cukup kok,” ucapku sambil tersenyum, meyakinkan bahwa itu benar-benar bukan masalah besar.

“Udah bikin kamu tetap waras?” Tanyanya menggoda. Aku mengangguk. Puas.

Aku tau hal-hal seperti mendengarkan, memahami, juga merasakan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Oleh karena itu, ketika ada yang bersedia melakukan hal itu untukku, aku sangat menghargainya. Bagiku, didengarkan saja sudah cukup. Sudah cukup membuatku merasa lega karena bisa melepaskan beberapa hal yang membuat sesak. Ketersediaannya untuk mendengarkan keluh kesahku sudah sangat kuhargai. Rasanya seperti ada orang yang telah rela mengorbankan waktunya untuk hidupku. Lantas apalagi yang aku minta?

Perihal masalah hidupku, biarlah waktu yang menjawabnya. Tapi perihal melepaskan hal-hal yang membuat hati sesak, aku butuh tempat untuk bisa menumpahkannya agar aku tetap waras.

“Tumpahin aja. Aku siap jadi tempat sampah. Eh bukan. Kata orang-orang tuh human diary,”

Aku tersenyum. Ia melanjutkan ucapannya. “Setiap kejadian dalam hidup kita tuh enggak bisa dibuang, apalagi dihapus. Bisanya diletakkan atau disimpan. Biar kamu enggak keberatan, simpan ke aku aja,” ucapnya bangga. “Ya meskipun kadang enggak ada jawabannya.” Ia tertawa. Kami tertawa.

4 8 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Haj
Haj
13 days ago

Banyak orang berfikir mendengarkan adalah hal yang gampang, padahal belum tentu semua orang bisa dan mau mendengarkan. Belum tentu semua orang bisa jadi tumpuan orang lain hanya dengan mendengarkan. Belum tentu juga orang lain dengan gampangnya menjadikan seseorang menjadikan seorang “pendengar”.
It’s great to have someone as your listener, not only just someone who has the answer to all your complaint.

Top