Duduk Lebih Lama

“Lemah lu kek cewek.”

“Sok-sok-an, biasa juga main Barbie.”

“Lemah, jijik!”

“Homo aja enggak doyan sama lu, apalagi cewek.”

“Lu pikir dengan lu kek gitu jadi keren gitu? Gak sama sekali!”

“Terkontaminasi timeline gue liat postingan lu.”

“Ngapain sih lu gajelas.”

“Lu bisa enggak sih guna dikit.”

“Gue aja yang liat geli apalagi orang tuanya yak, malu banget pasti.”

Posting-an terakhirnya dibanjiri komentar yang menyakitkan. Komentar menghardik, menghakimi, mencerca, dan menghina yang paling banyak kulihat. Bahwa ia kurang ini, kurang itu, harusnya begini, harusnya begitu, kenapa tidak begini dan kenapa tidak begitu.

Perihal menjadi baik di mata manusia, susah-susah gampang ternyata. Ada yang tanpa susah payah mengungkapkan, mereka sudah paham, sudah mengenalmu sebagaimana mengenal diri mereka sendiri. Tapi tak semua orang seperti itu. Akan ada yang selalu melihat sesuatu yang salah dari dirimu atau dari apa pun yang kau kerjakan. Sebaik apa pun kau berusaha, kau tetap tak akan bisa memenuhi keinginan mereka. Bahkan sampai saat ini aku masih terus bertanya-tanya, harus seperti apa diriku menghadapinya, perihal menjadi baik di mata manusia.

Aku kenalkan kau pada kawanku yang kuat. Ia adalah laki-laki yang lembut dan pengertian, meski kebanyakan menganggap tidak seharusnya demikian. Laki-laki harus kuat, tidak boleh lemah seperti ‘dia’. Kalau saja ada yang bersedia melihat dari kacamata yang berbeda, kalau saja ada yang bersedia mengenalnya lebih dalam, mereka akan lihat bagaimana kawanku itu begitu kuat. Ia habiskan kekuatannya untuk memaafkan, bukan untuk adu fisik atau sekedar gagah-gagahan.

Ia datang padaku kala itu, bertanya dengan sedikit ragu. Suaranya ketir, tenggorokannya tercekat, seperti susah sekali saat akan memulai pembicaraan. Aku berusaha setenang mungkin mendengarkannya. Sampai akhirnya ia berani berbicara. Tantang perasaannya dan komentar menyakitkan yang ia terima. Aku tau ia banyak menerima komentar menyakitkan pada setiap akun media sosial miliknya. Aku juga heran, seolah kawanku ini tak pernah benar dengan apa pun yang ia kerjakan.

Saat anak lelaki lain bermain bola, ia lebih memilih menepi dan menjauh dari lapangan. Saat anak lelaki berkelahi demi mempertaruhkan nama baik gengnya, ia lebih memilih berdiam diri di dalam kelas menghindari pukulan. Sejak saat itulah ia dicap sebagai anak mami yang takut berkelahi, atau anak perempuan yang selalu bersembunyi, dan masih banyak lagi. Ia tumbuh dengan kata-kata menyakitkan yang ia terima setiap harinya.

Kebencian berlanjut pada akun media sosial miliknya. Foto yang ia unggah dengan tujuan agar ia terlihat baik dan bahagia dipenuhi komentar orang-orang yang heran dengan tingkah lakunya. Ia mengunggah foto lagi agar orang-orang tau ia tetap baik-baik saja dan tetap bahagia, tapi lagi-lagi foto yang ia unggah tetap saja mendapat komentar menyakitkan. Terus seperti itu, berulang, menahun, menjadi kebiasaan. Sampai akhirnya kudapati komentar-komentar cacian itu mulai berubah. Menjadi sedikit manis dan menenangkan. Tapi sudah terlambat, yang dikomentari tak akan dengar, sebanyak apa pun komentar manis menutupi komentar menyakitkan yang pernah ada.

Iya, jarimu membunuhnya.

Ada sesal yang begitu mendalam, kecewa yang teramat sangat pada diriku ketika aku tak bisa memberikan lebih banyak kekuatan pada kawanku itu. Ketika kedatangannya padaku tak kuterima dengan utuh, ketika aku lebih memilih sibuk dengan hal lain dibandingkan duduk diam dan mendengarkannya walau sebentar. Ia menjerit tapi aku samar-samar mendengarnya. Ia kesakitan tapi aku tak secara utuh mengobatinya. Ia kesepian tapi aku hanya sebentar bersamanya. Harusnya aku bertahan lebih lama. Harusnya aku mendengarkan keluhnya sampai kering lukanya, sampai hilang tangisnya.

Aku tidak ingin mengulang kebodohan yang sama. Oleh karena itu aku meninggalkan pesan ini untuk diriku, dan kita semua. Jika suatu waktu atau saat ini melihat kejadian serupa:

Pahami, jangan menjauh, dan jangan menolaknya. Jika ada yang ingin membagikan lukanya denganmu, terimalah ia seutuhnya. Itu artinya kau menjadi orang yang ia percaya untuk merawat lukanya, untuk mengetahui rahasianya. Ia datang untuk mendengarmu berbicara sepatah dua patah kata yang bisa menenangkan dan menguatkan hatinya.

Jika tak bisa berbuat baik, paling tidak jangan ikut bagian apalagi maju paling depan perihal meninggalkan komentar menyakitkan. Lucu menurutmu belum tentu lucu menurut orang lain, baik menurutmu belum tentu baik menurut orang lain, tidak menyakitkan menurutmu belum tentu tidak menyakitkan bagi orang lain.

Terakhir, kepada kawanku yang telah menghabiskan kekuatannya untuk memaafkan, selamat tidur panjang.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Unknown Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Unknown
Guest
Unknown

😥 so sad

Top