Becermin di Cermin yang Salah

Perihal menerima apa yang kita punya, pikiranku langsung teringat pada ‘mereka’. Mereka-mereka yang hidupnya cukup, baik, juga selalu terlihat bahagia. Cermin yang kuambil bukan untuk diriku sendiri, tapi bayangan merekalah yang kujadikan cermin. Mereka punya segalanya, tentu tak sulit bagi mereka untuk menerima apa-apa yang mereka punya. Sebab mereka memiliki segalanya. Tapi aku tidak begitu, hidupku penuh dengan kata kurang, bahagia pun tak selalu bisa aku dapatkan, apalagi kawan juga dekap kasih sayang dari orang yang kusayang. Kupikir tak pantas jika ada yang mengatakan kepadaku bahwa aku harus berusaha menerima apa-apa yang kupunya. Sebab aku tak punya apa-apa. Tak ada yang bisa kuterima.

Rupanya aku salah. Selama ini aku becermin dengan cermin yang salah. Aku punya hidup yang harus kuterima, hidup yang Tuhan berikan kepadaku secara cuma-cuma, hidup yang harus kujalani sampai akhirnya Tuhan berkata “cukup”.

Hidup harus terus berjalan. Kurang pun, sedih pun, terluka pun, kecewa pun, sabar harus tetap jadi pemenangnya. Sedangkan penerimaan adalah hadiah manis dari buah kesabaran, bahwa kita membaik, bahwa masih ada yang bisa disyukuri dari kehidupan yang terasa pahit.

4.6 5 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top