Menyusun Kembali Angan dan Asa

Merelakan impian bukan perihal yang mudah. Siapa yang tidak kecewa apabila rencana yang telah dirancang sedemikian rupa ternyata kandas begitu saja? Bukankah kecewa adalah hal yang wajar? Perlu waktu yang tidak sebentar untukku berdamai dengan keadaan dan berusaha merelakan impian.

“Alah ngapain sih cuman gitu aja sedih! Masih banyak hal lain yang bisa kamu kejar,” kata orang-orang di sekitarku. Ya, memang masih ada banyak impian lain yang bisa aku kejar, tapi sebentar. Aku butuh waktu. Butuh waktu untuk “beradaptasi” dan menyusun semuanya dari awal lagi. Butuh waktu untuk memulai dan mengatur kehidupanku yang baru. Berat rasanya merelakan impian yang aku terlampau yakin bahwa aku bisa meraihnya. 

Banyak fase naik turun yang aku lewati selama proses “adaptasi” itu. Aku merasa kesal dengan diriku; merasa bahwa diriku sangat bodoh dan tidak berguna. Perasaan itu selalu berkecamuk di dalam benakku kala itu. Lelah menyalahkan diri sendiri, aku pun melimpahkan amarahku pada semesta. Mengapa aku harus mengalami hal ini? Aku merasa sudah mengeluarkan usahaku semaksimal mungkin. Doa pun selalu aku panjatkan untuk mengiringi usahaku. Namun, hasil yang aku dapatkan tak sesuai dengan yang aku harapkan. Aku menyalahkan semesta atas kegagalan yang menimpaku. 

Lambat laun aku sadar tidak ada gunanya untuk selalu merutuk dan meratapi kegagalan. Aku berusaha untuk menerimanya dengan lapang dada. Semua usaha yang aku anggap sia-sia suatu saat nanti pasti akan jadi makna. Aku juga menyadari bahwa sebaik-baik rencana adalah rencana Sang Pencipta. Mau sebagus atau sekeren apa pun rencana kita, tetap akan kalah dengan rencana Sang Pemilik Alam Semesta. Manusia boleh berencana, tetapi Tuhan adalah sebaik-baik perencana. Aku mulai berusaha berdiri kembali; berusaha mengumpulkan amunisi ‘tuk menyusun kembali angan dan asa; menata kembali impian dan kehidupan. 

Merelakan impian memang bukan perkara mudah. Akan tetapi, waktu terus berputar. Kehidupan terus berjalan. Aku tak ingin terus terjebak dalam impianku yang sirna. Aku yakin rencana Tuhan jauh lebih baik dari rencanaku. Mungkin aku belum mengerti maksud dari semua ini. Namun, suatu saat nanti aku yakin akan menemukan makna indah di balik merelakan impian.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top