Untuk Desember, Jangan Terburu Menjadi Januari

“Rasa-rasanya, tiap orang mampu beradaptasi, ya? Rasa-rasanya, saya tertinggal di sini, sendirian,” katamu lirih sambil menatap nanar layar gawai, di dalamnya terpampang berbagai capaian teman-temanmu yang mereka rayakan, berjajar apik dalam galeri media sosial.

Milestones, katanya. Bahwa sepanjang tahun yang sulit ini, mereka tetap mampu menjadi baik-baik saja. Lebih dari sekadar baik-baik saja.

Kamu harusnya turut bahagia, bukankah begitu?

“Tidak juga,” balasku. “Kita hanya mengusahakan sebisa kita.”

Lalu kamu diam, seolah berusaha mengingat kapan terakhir kali kamu mengusahakan sesuatu, seolah berusaha merekonstruksi apa-apa yang terjadi sebelum kalimat, “Hidup saya kacau sekali,” keluar dari mulutmu di suatu pagi bulan November.

Aku ikut menerawang ke belakang, merasakan kekosongan yang sama denganmu, bahwa aku belum banyak melakukan apa-apa. Aku pun mati-matian meyakinkan diriku sendiri bahwa bertahan hidup sudah cukup; bahwa bangkit dari tempat tidur dan mencuci muka sudah cukup; bahwa mampu berfungsi sebagai manusia pada umumnya sudah cukup.

Aku ingin menghiburmu, mungkin untuk menghiburku juga. Namun aku tidak mampu bicara—seperti biasa—aku tidak pandai berbicara.

Jadi aku membayangkan diriku menulis surat untukmu. Meski sejujurnya yang kumau hanyalah meyakinkanmu bahwa kamu tidak sendirian. Ada aku.

Semesta terlalu besar dan kita terlalu kecil. Bumi terlalu tua dan lahir sejak begitu lama, sedangkan kita mungkin hanya sepersekian juta kalinya. Aku bersyukur kita bertemu, sebab kamu tidak lahir lebih cepat ataupun lebih telat. Bahwa ternyata pilihan-pilihan berani yang kamu ambil juga langkah-langkah ragu yang aku lalui, mengantarkan kita pada titik kebingungan yang sama. Kita tidak harus menyisakan jejak kaki dalam sejarah, sebab bagaimanapun juga, eksistensi kita akan terhapus jejak kaki yang lain, dan itu tidak apa-apa. Menjadi biasa saja bukanlah dosa.

Aku sepertimu juga, sedang berusaha untuk turut bahagia melihat yang lain menemukan jalan masing-masing. Sebab kita kebingungan di persimpangan, sebab kita belum mampu membaca tanda, sebab kita masih berusaha mengeja nurani kita sendiri. Tidak apa-apa, kita tidak terlalu lambat, pun mereka tidak terlalu cepat. Tiap manusia menjajaki cerita masing-masing. Suatu hari, kita akan melihat ke belakang dan menyadari bahwa bagaimanapun kacaunya yang kita lihat saat ini, bagaimanapun susahnya mengaitkan takdir dengan mimpi lalu dengan ekspektasi, kita akan tetap mampu melaluinya.

Mungkin tahun ini bukan tahun yang kita suka. Mungkin kita telah kehilangan banyak sekali, terlalu banyak hingga rasanya kita hanya menggenggam kekosongan. Kita mulai menatap curiga terhadap waktu, bahwa diam-diam dia berlari lebih cepat agar kita kelelahan dan baru tersadar saat kita telah menua, tersadar bahwa yang kita kejar hanya sia-sia. Tapi kita tidak akan menyerah begitu saja, aku yakin dengan kamu, aku juga yakin dengan aku.

Kini kita tidak perlu menggenggam apa pun. Sebab mungkin dengan itu kita bisa bersalaman dengan hari-hari yang mengimpit kita seperti petugas fotokopi menyatukan lembar-lembar skripsi. Kita bisa menggandeng waktu agar dia berhenti mencengkeram pergelangan tangan kita yang mulai sakit, lalu memeluk diri kita sendiri saat kita lelah, pura-pura mengumpulkan kepingan puzzle yang rapuh agar ia menjadi utuh.

(Aku tidak ingat berapa lama kita merenung sebelum kota menjadi mendung dan kita harus berpamitan untuk pulang. Aku perlu membuat jemuran tidak kehujanan.)

Aku meneruskan surat yang kutulis dalam kepalaku. Namun kali ini tidak kutujukan untukmu.

Ini untuk Desember,

Aku hanya ingin memintamu untuk jangan terburu menjadi Januari. Masih ada burung camar yang belum usai mencari rumah untuk bermigrasi, dan masih ada kami yang tertatih memahami makna untuk bertumbuh di esok hari.

Jangan buru-buru meminta matahari tenggelam, sebab masih ada elang yang mencari tempat teduh setelah melewati lahan yang ia kira gersang namun ternyata kuyup oleh hujan, juga masih ada kami lagi-lagi yang harus menelan pahit kegagalan.

Tapi jika kamu ingin pergi karena Januari telah lelah menunggu, juga karena banyak manusia yang ingin memulai lembaran baru, kami akan menerimanya. Selama burung-burung telah pulang dari perantauannya, kami akan berusaha sekian kali lagi.

 

Untuk Desember yang sering hujan, untuk teman-temanku yang lagi-lagi gagal, untuk siapa pun yang tetap mau berusaha lagi meski letih di pundak dan bising di pikiran jarang mau diredam, juga untuk kamu yang meluangkan waktu untuk membaca ini: kita akan mencoba lagi, di detik ini, tidak menunggu Januari, tidak menunggu Desember pergi.

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
marfa
4 months ago

Halo Nur Annisa, terima kasih ya telah menulis ini, aku jadi tak merasa sendiri berkali-kali mengalami perasaan-perasaan di atas :”)

Bilghits Muhasivi
Bilghits Muhasivi
4 months ago

Keren, relate banget sama perjalanan hidup. Good job, semangattt ninis ku tunggu karya-karya mu yg lain! ✨????????

Top