Jika Aku Bukan Teduhmu

Kepada Tuan yang sudah mengajarkan apa arti berharap tanpa boleh mendewakan ekspektasi itu sendiri, kutitipkan rasa yang telah retak. Tuan sungguh tiada sopan menyelinap dalam benak nan kejat ini. Bahkan rindu yang seharusnya bukan milik siapa pun kini hanya Tuan empunya. Tuan berkata dengan parau bahwa menjalin hubungan bukan perkara mudah seperti tengah menjalin jala di tepi pantai di bawah nyiur. Jika jatuh cinta mesti membutuhkan beragam alasan yang kompleks, harus kukatakan bahwa siapa yang tahu dalamnya hati seorang Puan. Pada Tuhan semesta alam aku sempat berdialektika membicarakanmu dalam senyap sepertiga malam. Seandainya kita bukan bagian dari alegori Adam dan Hawa, aku harap di mana pun hatimu berlabuh kau akan temukan teduh.

Laksana meteor, cahayamu yang benderang itu sempat membutakan mataku. Segala yang mampu kuingat adalah cahayamu meski telah membakar penglihatanku. Hingga tanpa kusadari segala hal tentangmu telah merasukiku kecuali satu, cintamu. Aku buta karena ilusimu. Hidup yang sempat polos kini menemukan motifnya. Meski motif itu terlalu abstrak untuk kuurai dengan bayangmu yang masih bertaut. Bagiku, kisah kita yang runyam sebelum benar-benar dianyam ini menemukan padanan motif terindah melebihi yang bisa kugadai dengan patah hati.

Melalui rasa sakit ini, kautitipkan pembelajaran yang tak kalah penting: bahwa jika kau tidak pernah mencintaiku sebesar aku mencintaimu, setidaknya aku dicintai dengan megah oleh diriku sendiri dan tiada rumah yang lebih teduh untuk aku singgah berlabuh selain diriku sendiri. Terima kasih untuk hari-hari penuh patah, lebur, dan desau harapan yang mengajarkan banyak cerita agar diri selalu tegar. Jika aku bukan teduhmu, aku akan berlalu meski tanpamu.

3.7 3 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top