Tentang Harapan dan Masa Depan

Empat bulan lalu ketika sedang bercengkerama penuh gelora, berkata ini itu sembari merapal kata semoga. Optimis semua akan terlaksana meski penuh tanda tanya. Percaya suatu waktu akan terlaksana kendati masih meraba cara mewujudkannya. Tak sedikit pun ragu untuk melaju, entah sudah dipikir matang-matang atau hanya sekadar menuliskan angan-angan.

Konon katanya kita harus punya pedoman supaya tidak hilang arah dan tetap fokus pada tujuan. Lalu setiap orang berbondong-bondong membuat bait-bait dengan tajuk “apa yang harus dilakukan”. Perihal nanti tumbuh terlaksana atau hanya pajangan rencana, biarlah menjadi urusan ke sekian; yang penting berusaha menuangkan apa yang ada di pikiran. Begitulah mantra yang selalu diucapkan pada diri sendiri dengan dalih motivasi.

Lucunya, semakin hari melihat sana sini berlari kadang membuat ketakutan sendiri. Terombang-ambing tanpa arah, mempertanyakan apa yang sebenarnya dicari. Sira pandai menari, langsung impulsif mendaftar bengkel seni. Ketika yang lain menyukai fotografi, tak segan membeli peranti secara rinci. Lupa kalau pada awalnya yang diinginkan bela diri.

Tak dapat ditampik, krisis eksistensi perlahan merambati kepercayaan yang susah payah dibangun sejak kata semoga menjadi pondasi utama. Menertawai secarik kertas berisi resolusi tahun-tahun lalu menjadi makanan sehari-hari. Memperdebatkan esensi atas tulisannya sendiri. Merutuki diri yang mudah hanyut dalam situasi. Lagi-lagi bimbang, ada banyak cita di kepala tanpa tahu bagaimana cara merealisasikannya. Hanya bisa menangis dalam heningnya malam seraya membandingkan capaian tiap insan.

Entahlah, apakah sebenarnya ini semua hiperbola atau memang begitulah fasenya. Akan tetapi bukankah semua orang pasti pernah bergumul dengan dirinya sendiri? Meragukan kemampuan yang dimiliki, memandang orang lain lebih tinggi, dan apa pun itu yang menggoyahkan niat hati. Tak jarang kita merasa sendirian menghadapinya, menganggap seolah-olah dunia begitu kejam memperlakukan. Namun pada akhirnya kita akan bertemu pada suatu persimpangan dan hanya kita yang mampu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, berhenti sejenak, berbalik arah atau bahkan mencari jalan lain. Setiap yang kita pilih pun tak akan sama hasilnya, ada yang sampai tepat waktu ada pula yang terlambat, juga mungkin ada yang datang terlalu cepat. Tak apa, kita berjuang sekuat tenaga, meski entah untuk yang mana. Pelan-pelan, suatu waktu nanti akan sampai tujuan.

4.4 10 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
helda
helda
16 days ago

damn !!! aku yg tanpa arah sekarang dan lelah nya mencari pekerjaan sbg seorang freshgraduate huh

Top