folder Filed in Cerpen, Sekitar, Yang Lain
Saung Pak Tua
"Jangan habiskan masa mudamu hanya untuk membayar tagihan cicilan, anak muda."
Negar Fitrian comment 0 Comments access_time 1 min read

Lampu-lampu sentir kian sayup tatkala congkaknya angin makin kencang berhembus bersamaan dengan menembus paksa masuk ke tulang rusuk ini. Malam makin menebar hawa mistik, sebuah akibat timbulnya mitos-mitos ciptaan orang-orang tua kita dahulu. Topik diskusi dari “Pak Tua” yang membuat kami tidak mengacuhkan suara reyot dari saung tua ini. “Tolong seduhkan kopi lagi, Nak!”. Ucap Pak Tua seraya menyalakan rokok dan mengecap sisa ampas kopi di mulutnya dan menyodorkan gelas dengan sisa ampas kopi kepadaku.

“Jadi anak muda, sudah waktunya kalian yang memegang tombak. Bukan karena hari ini kita membicarakan soal mimpi dan keadaan. Tetapi di mana hari ke depan akan berlanjut. Apa kalian akan tetap apatis dan hanya terjun sebatas teoristis? Hati kalian sudah terseret gerombolan penggiat harta, jika otak kalian dipaksa dungu dengan pakem “Bagaimana Kita makan besok?”. Baiknya seumur hidup kalian bisa memegang Prinsip. Jika tidak bisa, maka 1 Hari dalam seumur hidup kalian peganglah prinsip! Maka dari 1 hari itulah percikan keyakinan mulai membakar kekecewaan kalian akan dunia secara perlahan.”

Diskusi ini biasa berlanjut hingga Adzan Shubuh berkumandang. Entah berapa bungkus rokok dan gelas kopi yang kami habiskan. Yang jelas, Kami selalu merasa semangat kembali kala mendapat wejangan dari seseorang pemegang prinsip seperti “Pak Tua” itu. Di mana kemiskinan tak membodohi akal dan semangatnya.

Kutipan yang ku sukai darinya adalah, “Jangan habiskan masa mudamu hanya untuk membayar tagihan cicilan, anak muda”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment