Menggunjing Takdir

Seperti anjing terpanggang ekor, itulah peribahasa yang kini menggambarkan masyarakat yang kembali gamang menghadapi kenyataan. Individu hingga sosial seakan belum siap untuk menerima perubahan mendadak tatanan rutinitas yang biasa berjalan semestinya. “Jarak sosial” menjadi utopia gaya hidup bagi sebagian orang, pun tidak bisa disalahkan karena banyak pula yang baru bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan perjuangan yang lebih dari sepadan. Di saat yang bersamaan, seakan terjadi paradoks, tatkala berbagai media terus menggemborkan-gemborkan slogan untuk bersikap tidak panik akan situasi yang sedang terjadi namun kerap menyuguhkan berita kegaduhan dan sarat akan kericuhan yang siap menerkam kita. Sejatinya manusia yang katanya makhluk beradab dan menjunjung tinggi nilai norma akan kalap dan berubah buas saat situasi makin genting juga sinting. Hawa nafsu yang baiknya diwanti-wanti sesegera mungkin sebelum menjadi terlanjur dan diri makin melantur. Adu jotos argumen akan siapa yang salah dan benar sudah tak bisa dihindari belakangan ini. Lantas ke mana perginya nurani? Kita menggunjing takdir, menghindari nasib, otak yang makin pandir, was was akan nyawa yang bisa saja raib. Mereka para pejuang-pejuang yang simpati bukan hanya pada diri sendiri, juga membutuhkan amunisi empati yaitu kesadaran diri kita sendiri.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top