Jakarta Subuh Awal Syawal

Penat kepala tak tertidur hingga larut,
didoping pekat kopi ‘tuk menemani bungkusan rokok.
Curahan hati berbagai macam anak manusia,
bersatu padu dalam keluh kesah hidup.
Hidup dalam dunia yang fana,
fana akan kekecewaan bermata harapan.
Harapan rapuh, sesal makin menjadi.
Menjadikan hati makin jauh dari sang pemilik hati.
Dan aku selalu menikmati perhelatan malapetaka dan anugerah kehidupan ini.

Gontai langkah menyambut senyuman sang fajar.
Gagahnya para pengangkut sayuran sisa,
terkucur keringat asa berbalut rindu akan sanak keluarga.
Para ibu penjaja sarapan, rapi berjejer tanpa komando.
Bidadari kusam bergincu tebal mulai kembali menuju kayangan usang.

Kepul asap yang makin menggila hari demi hari,
menjadi saksi pongahnya apartemen baru yang siap memanjakan kaum borjuis.

Doa gadis manis dengan gitar dan plastik di tangan
tundukan hati yang amat kufur akan nikmat sang Illahi.
Harapan bocah dekil berlari menenteng koran mengejar setoran,
lupa akan keluh dan kesah dalam hidup hari-harinya.

Malunya diriku ya Rab.. selalu mencerca nikmat dari Mu

sungguh malam yang panjang semalam.

Aahhh.. silaunya sinar menembus jendela kamarku.
waktunya terlelap dalam mimpi untuk manusia subuh sepertiku.

2.5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top