Ikhbar

Foto: dhisdhisdhis

Tidak perlu lagi dihitung berapa banyak kekecewaan yang sudah semena-mena pada kehidupan sejauh ini. Lagi pula kosakata umpatan telah habis jua dilontarkan, sialnya amarah tidak kunjung redam, malah menjadi ratna mutu manikam yang kian mencekam. Berbondong-bondong harapan dituliskan juga direncanakan, setidaknya satu saja … satu … hanya satu setidaknya yang bisa kesampaian. Sayangnya, masih belum juga ada yang terlaksana. Jangan ditanya soal eksekusinya, ragam cara sudah dicoba, bahkan kebuntuan bukanlah alasan untuk dijadikan pemberhentian, namun masih belum juga terwujud. Bahkan Tuhan pernah dijadikan bentuk kesialan, tatkala pikiran dan nalar sedang berkecamuk edan!

Lantas diri berpikir untuk menyudahi, bukan, meludahi saja itu semua tujuan yang menjengkelkan. Najis dengan semua harapan persetan yang muluk-muluk diperjuangkan. Tapi, bukan itu jawabannya, bukan itu keputusan yang harus diemban. Karena di masa tua nanti bukan penyesalan yang diinginkan untuk menemani hari-hari yang sudah lelah. Diri juga akan terengah-engah menghadapi segala penyesalan tersebut, karena tenaga pun sudah payah.

Untuk ke depannya, aku hanya ingin terus mencoba. Setidaknya pernah mencoba, walaupun sakit hati yang teramat sangat kala tujuan masih belum tercapai. Aku juga masih bingung, untuk sekarang, apa lagi yang harus dilakukan? Tidak ada gambaran untuk pijakan masa depan. Tapi, aku akan selalu memegang teguh pesan ibu: kita harus terus menebar benih yang kita inginkan dan terus merawatnya. Di masa panen nanti, kita tinggal nikmati hasilnya. Dan kau tau, tidak semua benih tukul dengan matang di masa panen akan ada yang busuk pula. Semua ketetapan urusan Tuhan, dan insan hanya bertanggung jawab untuk melaksanakan.

4.7 7 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Oktaviani
Oktaviani
14 days ago

Jleb banget dan yg kualami sekarang oh my god

Last edited 14 days ago by Oktaviani
Top