Hiyayat

Nak,

penyair hanya bisa hidup dalam mimpi,

lantaran duniamu hanya menawarkan kecewa.

Keterbatasan puisi dan prosa adalah kenyataan.

Nak,

penyair biasa kawin dengan onani.

Lantaran matrimony telah disusupi gengsi,

yang tak akan pernah imbang bila disandingkan dengan nurani.

Nak,

penyair terbiasa mencinta dalam sengsara,

biar kau rasakan sendiri nanti bagaimana nelangsanya.

Nak,

penyair harus berdikari dalam kata,

tak ada pilihan! Dan itu memang terdengar egois.

Maklum, kekolotan kerap memenuhi isi kepala.

Nak,

penyair hanya menghamba dalam doa,

kelemahan kita hanya patut ditunjukan kepada-Nya.

Ketidakberdayaan kita hanya pantas untuk-Nya.

Camkan!

Nak,

penyair selalu memperjuangkan harapannya.

Yakni menjadi sejahtera.

Baik di dunia dan setelahnya.

 

Aku tulis untuk si sulung.

Karena engkau hiyayat yang Allah titipkan.

Pilih jalanmu yang sekiranya tak akan kau benci nanti.

 

 

Untuk si bungsu,

maafkan ayah…

Aku hampir tak pernah memanjakanmu.

Tanya kakakmu. Kenapa bisa?

Sampaikan juga maafku kepada istrimu.

Jika ia masih tidak mau menemuiku.

Lantaran aku menghajar hatinya,

reaksi spontan seorang ayah yang kesal mendengar putranya dipermalukan hanya karena upah bulanannya.

Aku titip perjuanganku,

dalam menjaga ibumu.

Kau tau, aku bahkan tak sungkan menciumnya di depanmu.

Ia adalah nalarku.

Sahabatku…

Mentorku saat mentok dalam menasehatimu.

Dan dia yang selalu memprioritaskanmu.

Nak,

gali kembali mimpimu.

Lupakan perdebatan kita soal realita,

pada akhirnya, toh kau merasakannya.

Nak,

aku sayang kamu.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top