Keadaan sudah tidak memungkinkan untuk terus mempunyai tujuan.

Harapan hanya menjadi bulan-bulanan makian.

Baiknya lepehkan cuapan soal impian.

Do’a-do’a usang bahkan berserakan, beralih fungsi menjadi bahan tertawaan.

Cinderamata yang disebut wejangan mungkin sudah menjadi pajangan.

Berdebu di antara ribuan kosakata-kosakata pembangkit impian.

Memang apa yang salah dengan menyerah?

Mengais kecewa dan bersandar pada putus asa.

Rehatlah…

Berkeluh kesahlah…

Dan aku menoleh kepadanya.

Pria tua kurus yang berbau kakus.

Mencemooh sekelilingnya dengan nyanyian sumbang khas jalan raya.

Pun tak ada yang akan peduli, bahkan bayangannya ditelan siluet gedung bertingkat.

Gerak gerik yang menghardik tak diacuhkan.

Makan siang yang terus dipikirkan.

Seporsi gulai ayam adalah dambaan.

Sebungkus rokok adalah idaman.

Dan segelas kopi adalah ritus penutup dari semua kewalahan.

Iba hanya akan menjadi sepotong bangkai tatkala rasa ingin tau adalah sebuah kebutuhan khusus demi memenuhi asupan citra kepedulian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment