Bercelatuk

Suntuk,
kala pikiran kalang kabut.
Daya nalarku terkapar,
buyar!

Kita. Aku, kamu, dan berjam-jam dialog yang kita lakukan. Melibas ragam topik bahasan, jeda hanyalah helaan napas.

Betapa semangatnya tatkala engkau membahas karya-karya Sapardi dan Pram. Aku hanya mengangguk dungu. Begitu pun sebaliknya, saat aku dengan bergelora melantunkan sajak-sajak Rendra. Kau hanya menggaruk kepala.

Lantas, kita merenungi masa silam, menyusun masa depan, mengikhlaskan yang terlewatkan, menerima keadaan sekarang. Sepakat untuk tidak sepakat dalam hal ego dan watak masing-masing diri.

Yang paling menyenangkan adalah saat masing-masing sadar akan kapasitas untuk tidak saling mengungkapkan, menerka sebuah kepastian yang mungkin tidak sesuai dengan perkiraan karena takut untuk tidak siap menerima kenyataan.

Kita sudah tidak berkabar setelah keakraban yang sulit dilupakan.

Jika perjuangan sebenarnya adalah pelaksanaan dari kata-kata, mungkin sajak-sajakku ini hanyalah berisi ketidaksanggupan.

Aku berusaha untuk tersadar. Mungkin kau juga.

Allah menanamkan sakit hati dan kecewa pada manusia untuk menunjukan Kuasa-Nya. Membuktikan pada jutaan manusia yang lagi ngambek, lalu mengutuk soal kenyataan hidup. Tapi Allah kerap memperhatikan setiap langkah kita, Dia memberi clue untuk orang-orang yang berpikir.

Aku sering membayangkan kau bersama dengan yang kau idamkan, yang pernah kita diskusikan. Dan aku bercelatuk, bahwasanya akan menyenangkan saat masa tua nanti, kita bisa menemukan lawan bicara yang sepadan, untuk menghabiskan sisa umur yang seredup rembulan.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top