Harapan adalah kemunafikan dunia. Topeng segala bentuk kelemahan. Buah dari kesedihan. Ia adalah musuh dari arogansi kehidupan, modus operandinya menghentikan segala tindakan yang mendukung dan menguatkan. Namun harapan bukanlah hal yang bisa dihilangkan. Selalu menjadi momok bagi para pemuja ambisi. Dan ambisi adalah hasil dari keteledoran harapan yang terbengkalai. Kalimat-kalimat tersebut yang selalu terngiang dalam batinku. Adakalanya kita berada dalam fase di mana kondisi mengharuskan untuk lupa diri. Hal tersebutlah yang mendasariku untuk menemui mantan psikolog itu. Aku sempat heran saat tahu kalau petani tembakau itu rupanya seorang doktor. Lulusan terbaik dari kampus ternama di kota asalnya. Hal yang makin membuatku makin tampak dungu, saat mendengar alasan mengapa dia meninggalkan itu semua dan beralih profesi yang jauh dari kesan gengsi. “Kamu akan terus berpikir kalau keadaan selalu menjadi tidak masuk akal jika kamu masih betah menjadi waras dikondisi saat ini.” jawabnya dengan tenang, sesekali menghembuskan asap rokoknya. 

“Dokter Andien, maaf sebelumnya, kenapa kau tidak menikah?” Tanyaku basa-basi karena sudah kehabisan topik obrolan. Dia hanya tertawa seraya menempeleng kepalaku. Tampak lesung di pipinya. Kemudian dia menyingkap rambutnya di telinga dan menyalakan rokok. Tiga hari sudah aku bersinggah di rumahnya. Namun hanya satu kali dalam sehari dapat menemui doktor Andien, itupun di kebun garapan yang memang dia sewa untuk aktifitas bertaninya. Saat malam, kerap kali dia berkumpul dengan warga sekitar untuk sekadar berbagi kisah ataupun menerima jasa konsultasi gratis. Melakoni hal tersebut adalah kewajiban baginya. Ilmu yang dia dapat semasa bangku kuliah digunakan sebagaimana mestinya.

Pernah di suatu waktu, semasa dia masih prakter sebagai psikolog mendapat pasien yang menderita depresi akut. Gadis muda yang mempunyai keinginan amat kuat untuk bunuh diri. Sangat parah hingga membutuhkan obat penenang. Pun sebenarnya hanya butuh penanganan yang sederhana, minimal melakukan dialog secara berkelanjutan, terang doktor Andien. Namun pihak rumah sakit tidak menggubris sarannya dan tetap dengan aturan kolot yakni memberikan resep obat penenang dengan harga yang lumayan gila mahalnya. Dan benar saja dugaan dokter Andien bahwa sang pasien juga keluarganya tak sanggup menebus terus menerus resep brengsek itu. Yang mana kisah ini ditutup dengan suksesnya bunuh diri sang gadis dengan cara tragis. Doktor Andien tidak ingin menceritakan bagaimana gadis itu tewas.

Awalnya aku pikir kejadian satir seperti itu hanya terjadi di film, ternyata terkaan aku salah. Secara gamblang kisah serupa dipaparkan langsung kepadaku. Watak manusia adalah hal yang pakem. Menjadi kolot ataupun bijak adalah pilihan, namun jauh dalam diri kita ada sifat pasti yang memang terpatri dan tak dapat diubah. Mungkin bisa untuk dikurangi tapi sukar untuk dihilangkan. Seperti halnya doktor Andien yang memilih menjadi tidak waras saat di mana semua orang memilih menjadi waras. 

Belakangan aku mendengar kabar dia meninggal. Bunuh diri karena depresi. Kalimat terakhir yang dilontarkan padaku saat pamit pulang adalah, “Mas, pilihan bukanlah hal yang bisa dipaksakan. Saran adalah awal dari penyesatan. Alih-alih mengunci takdir di dalam pikiran juga bentuk putus asa. Berdo’alah selalu pada Tuhanmu. Caper pada-Nya, merengek pada-Nya serta berbagi dan mendengarkan dapat mengurangi bebanmu. Pun kembali lagi, pilihan adalah kehendak bebas manusia. Berikut keuntungan juga resikonya”.

Bahkan seorang penasihat juga pendengar terbaik mempunyai hal-hal yang lebih dalam dibandingkan sebuah rahasia. Saran-saran yang kerap kita lontarkan terkadang hanyalah senjata tumpul yang berbalik menyerang. Tapi, tidak semua nasihat itu hanyalah wejangangan klise belaka. Adakalanya aku ingin melanjutkan jalannya doktor Andien. Berbagi dan mendengarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment