Manusiawi; bagi Orang Lain atau Diri Sendiri?

Mengamati; sejak dulu aku suka mengamati orang, siapa pun itu. Entah apa saja yang kuamati: matanya, hidungnya, perilakunya, gerak-geriknya, cara bicaranya, apa pun. Terkadang aku mengamati terlampau jauh, hal-hal tak kasatmata seperti suasana hati yang mendung dalam diri pun tak sengaja tertangkap pandanganku. Seuntai kata yang urung terucap dari bibir juga secara tersirat bisa kuartikan maknanya. Meskipun mulut tak mampu berkata, jangan lupa bahwa mata bisa membaca mata. Karena terkadang, mata jauh lebih jujur dari mulutmu sendiri.

Manusia sering kali memendam apa-apa yang ia rasakan jauh dalam hatinya: perasaan tidak suka, perasaan kecewa, perasaan rendah diri, perasaan tersakiti beserta segenap perasaan-perasaan lain yang turut serta mengikuti. Pertanyaanku adalah, “Ada apa dengan mereka ini, kenapa tak diungkapkan saja bila memang merasa sakit hati?”

Setelahnya, aku mengamati dan terus mengamati. Menerka, kira-kira ada apa dengan mereka. Ternyata, manusia sering kali terkendala oleh sifat-sifat manusiawinya. Rasa tidak enakan, rasa sungkan, rasa tidak ingin menyakiti hati orang lain lantas menahan perasaan sakit itu semua jauh di dalam diri. Meski mereka merasa tidak adil atas perlakuan tidak mengenakkan dari orang lain, mereka tetap mampu menahan dan menutupinya. Kenapa pula? Tidak usah merasa tidak enakan di saat dirimu merasa terserang atau tersakiti. Sebegitunyakah kau ingin menjaga perasaan orang lain, padahal dirimu sendiri tengah nelangsa akibat perlakuan itu?

Bukan aku ingin menyuruhmu untuk bersikap ofensif, aku hanya ingin kalian sadar atas diri kalian sendiri. Menjaga hati orang lain itu perlu, namun jangan lantas kau menutup mata jika dirimu merasa tidak dihargai. Kau harus pintar-pintar membedakan, mana yang bisa ditoleransi dan mana yang menyakiti hati; mana yang bisa dianggap candaan, mana yang menyinggung terus-terusan. Manusia tak selalu mumpuni, dan itu tak apa. Memang ada kalanya kita harus sabar-sabar menutup telinga atas cibiran orang, namun kita sendiri yang menentukan apakah kita mau terus-menerus ada dalam lingkungan yang jelas menyakitkan? Tidak. Dunia tidak pernah adil, tapi kau bisa menciptakan keadilan bagi dirimu sendiri.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top