folder Filed in Cerpen, Sekitar, Yang Lain
Pohon Uang
Bersama iringan kepulanganku, aku berharap dalam hati semoga saat aku dewasa nanti dan mempunyai cukup uang untuk membeli sepatu mengkilap itu, aku bisa pergi menaiki pohon uang yang tinggi itu.
Nani Roy comment One Comment access_time 9 min read

Ini hanyalah sepotong kisah tentang kegelisahan masa kecilku. Tentang kemana tanah lapang dan pepohonan pergi. Tentang tempat bermainku yang sudah tergantikan pohon uang, dan tentang layangan yang tak bisa ku terbangkan lagi. Tentang Ayah yang sangat aku kagumi dan Ibu seorang yang paling mengerti.

Aku adalah Rama, anak yang dilahirkan normal oleh Ibuku. Aku adalah anak laki-laki satu-satunya yang dimiliki oleh Ibu dan Ayahku. Kami tinggal di perkampungan salah satu sudut kota Jakarta. Suatu hari saat aku diperkenalkan permainan-permainan tradisional oleh Ayah, aku sangat antusias melihat mata Ayah berbinar. Salah satu permainannya yaitu layang-layang. Aku kagum melihat Ayah membuat layangan sendiri, Ayah mengajariku membuat layangan dan sejak saat itu, bermain layang-layang adalah hobiku.

Layangan adalah sahabatku. Ada satu layangan yang menjadi teman pertamaku, kunamai Topan. Alasannya, karena saat angin semakin kencang, Topan akan semakin tinggi melangit. Topan adalah layangan pertama yang kubuat bersama Ayah. Terbuat dari koran bekas dan bambu yang dipotong-potong. Ukurannya tidak terlalu besar tapi juga tidak seukuran layangan yang dijual di warung-warung.

Topan dicat menjadi warna cokelat gelap. “Agar seperti warna kulitmu,” ucap Ayahku sambil tertawa melihatku keheranan. Lalu ku perhatikan lenganku dan bertanya kenapa kulit dan rambutku hitam? Ibuku bilang karena aku terlalu banyak bermain panas-panasan. Padahal sebenarnya keluargaku memang semuanya berkulit hitam dengan mata coklat.

“Bukan hitam, Rama, tapi sawo matang. Kulitnya orang pribumi.” Sahut Ayah ketika Ibu tertawa melihatku cemberut. Aku kembali tenang saat Ayah bilang bahwa sawo matang adalah kulit asli orang pribumi. Meski aku masih belum paham apa itu pribumi.

Saat ku masih kelas 3 Sekolah Dasar, sepulang sekolah adalah waktu yang asyik untuk berpetualang terutama bermain layang-layang bersama sahabatku Ucok dan layangannya yang dinamai Awan, alasannya karena dia terbang ditiup angin. Aku tertawa mendengar celotehnya.

Ucok adalah sahabat keduaku setelah Topan. Kulitnya hitam sama sepertiku, tapi rambutnya keriting. Dia tetanggaku sekaligus teman mainku. Kami sering menghabiskan waktu untuk bermain layang-layang. Tiada hari tanpa bermain, dan tiada hari tanpa omelan Ibunya Ucok. Karena kami sering terlambat pulang, Ucok sering diomeli Ibunya dan aku ikut menjadi sasaran omelannya. Karena sudah tak terhitung lagi kami pulang terlambat, Ibu Ucok menjadi hobi mengomeli kami. Seperti omelannya ini adalah alarm alami kami untuk segera pulang.

“Apa Ibumu tidak marah? Ini sudah mau sore, Cok.” Ucapku sembari menarik Topan pelan-pelan.

“Tenang saja, tadi Ibu sedang pergi, kita bisa main sepuasnya.” Jawabnya sembari tertawa. Aku ikut tertawa mengingat omelan yang biasa Ibu Ucok ucapkan. Tak lama selang Ucok bercerita kalau si Awan sudah diperbaiki karena sobek diambil Ibunya, tiba-tiba alarm alami kami datang.

“Ucok!” Kami menoleh dan gelagapan ketika Ibu Ucok datang mendekat. “Sudah Ibu bilang kalau mau layanganmu aman jangan pulang terlambat, Ucok!!!!” Ucap Ibu Ucok seraya menjewer Ucok.

“Katanya Ibumu pergi, Cok?” Bisikku sangat pelan agar tidak terdengar Ibu Ucok.

“Tidak tahu, tadi tak ada dirumah,” bisik Ucok tak kalah pelan.

“Kalian bisik-bisik apa, ayo cepat pulang! Kamu Rama, sama bandelnya ya sama Ucok.” Ucap Ibu Ucok terus mengomel sembari menjewer kami berdua. Topan dan Awan sudah kami turunkan dan siap ikut kena omelan sakti Ibu Ucok yang meski terus mengomel tapi kami malah senang dan tak kapok untuk bermain layang-layang.

***

Satu hari yang cerah merubah jadwalku bermain layang-layang sepulang sekolah. Saat itu aku keheranan melihat banyak truk dan mobil beko di lapangan. “Ada apa bu?” Tanyaku pada Ibu yang memperhatikan mobil-mobil besar lewat di dekat rumahku.

“Lapangan Lama mau digusur,” jawab Ibu sambil membimbingku masuk ke rumah. Lapangan Lama adalah tanah lapang yang menjadi tempat favoritku bermain layang-layang. “Sudah, sekarang libur dulu main layangannya ya,” ucap Ibu yang melihatku murung. Aku hanya mengangguk.
Sekarang ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Lapangan lama yang digusur tidak bisa lagi jadi tempatku bermain. Ada pagar dengan dinding tinggi di sana, aku dan Ucok tak bisa masuk. Aku penasaran kenapa Lapangan Lama digusur?

“Lapangan Lama akan dibangun Pohon Uang,” jawab Ayahku. Aku tidak tahu apa itu Pohon Uang, namun Ayah hanya bilang kalau Pohon Uang dapat menghasilkan uang tanpa harus dipetik. Tapi bentuknya tidak seperti pohon, pikirku. Namun karena libur bermain layang-layang dan ditambah aku yang selalu bertanya tentang mobil-mobil besar yang melewati rumahku, akhirnya Ayahku mulai mengajarkan aku cara membuat mobil-mobilan dari bambu.

Karya pertamaku adalah mobil yang kunamai Mobe, alias mobil besar. Ayah tertawa melihatku antusias. Meski libur bermain layang-layang, aku sekarang sibuk merakit potongan bambu dengan karet gelang yang kubentuk mobil-mobilan. Dan sebagai pelengkapnya yaitu ban mobil yang dibuat dari sendal bekas dan dipotong menjadi lingkaran kecil, menjadi mini-ban. Awalnya Mobe tidak bisa jalan walaupun sudah kuberi ban.

“Pasti tidak bisa muter itu ban, pakai ini nih.” Kata Ayahku sambil menyodorkan pulpen bekas yang tidak ada tintanya.

“Untuk apa?” Tanyaku heran.

Akhirnya Ayah melepaskan ban Mobe dan memasukkan potongan bambu yang sudah kuberi ban, kemudian baru memasang ban si Mobe dengan karet. Ayahku sangat hebat. Akhirnya Mobe sukses meluncur.

Aku bertahan hanya beberapa bulan bermain dengan Mobe, aku rindu bermain dengan Topan. Lapangan Lama sudah hilang berubah menjadi Pohon Uang, kata Ayahku. Tapi bagaimanapun Aku dan Ucok tetap ingin bermain, meski Ibu dan Ayahku bilang sudah tidak ada lagi tanah lapang. Tapi aku tetap tidak percaya.

Sore ini, Aku dan Ucok memutuskan untuk pergi bermain layangan. Kami berjalan menyusuri perkampungan. Dengan segulung benang dan Topan bersama Awan di tangan, kami terus mencari lapangan luas untuk bermain layang-layang.

Kesana kemari aku mencari hanya terlihat Pohon Uang di mana-mana. Aku terus menyusuri gang-gang sempit perkampungan, berharap di ujung gang ada tanah lapang yang bisa menjadi tempat ku bermain. Sejauh kami berjalan tetap saja tak menemukan tanah lapang yang kami harapkan.

Lagi-lagi aku hanya melihat pohon uang yg menjulang tinggi seperti ingin mencapai langit. Tinggi sekali sampai dari kejauhan sudah terlihat lengkal dengan pagar-pagarnya. Ternyata yang Ibu dan Ayah bilang itu benar. Tidak ada lagi tanah lapang.

Bosan mencari, aku dan Ucok memutuskan istirahat di pinggir sungai sambil memakan makanan ringan yang kubawa dari rumah. Aku menatap pohon uang yang tinggi menjulang di seberang sungai. Aku terheran-heran kenapa banyak sekali pohon uang? Dan kenapa namanya pohon uang? Sedangkan bentuknya tidak seperti pohon.

“Enak sekali ini, Ram.” Ucok memakan kue singkong buatan Ibu.

Sore ini panas sekali. Selain banyak pertanyaan tentang kemana tanah lapang kami, aku terus bertanya-tanya kenapa lebih banyak pohon uang dari pada pohon yang rindang, yang biasa kupanjat?

Aku ingat dulu sering memanjat pohon jambu milik Pak RT dan diam-diam mengambil jambunya. Jambu biji yang merah dan sangat manis. Tapi sekarang sudah ditebang karena Ucok pernah jatuh saat memanjat dan kebetulan ketahuan Pak RT, si pemilik pohon jambu itu. Hari itu adalah hari terakhir aku melihat pohon jambu di dekat rumah. Sepanjang jalan juga sudah tidak ada pohon, udara jadi panas sekali karena pohon-pohon sudah ditebang digantikan tiang-tiang listrik.

Kebun juga sudah menjadi rumah-rumah susun seperti dari gang sempit yang kami lewati. Aku penasaran kenapa banyak sekali pohon uang? Tapi kemana pohon-pohon biasa pergi? Apa pohon sudah ditebang semua? Aku terheran-heran sambil mengelap keringat yang membasahi wajah kumalku.

“Cok, apa kamu tahu pohon uang?” Tanyaku sambil menatap gedung tinggi menjulang di seberang sana.

“Aku tidak tahu, memangnya apa itu pohon uang, Ram?” Jawabnya sambil menghabiskan sisa makanan ringan di tangannya.

“Kata Ayahku, pohon uang itu yang bisa menghasilkan uang tanpa harus dipetik. Lapangan Lama kita juga sekarang sudah berubah menjadi pohon uang, Cok.”

“Makanya daritadi kita tidak lihat tanah lapang.” Jelasku sambil melihat Ucok yang serius memperhatikanku.

“Memang di mana pohon uangnya, Ram?” Tanya Ucok penasaran

“Itu juga pohon uang, kata Ayahku.” Aku menunjuk gedung tinggi di seberang tempat aku dan Ucok duduk beristirahat.

“Kok aneh pohon uang ternyata bentuknya seperti itu?” Tanya Ucok keheranan.

“Aku juga tak tahu.” Jawabku sekenanya.

“Ayo kita kesana, Ram. Aku ingin memanjat pohon uang!” Ucap Ucok bersemangat.

“Tidak boleh. Ada dinding yang tinggi juga, Cok. Kita juga tak pakai sepatu.”

“Memang naik pohon uang harus pakai sepatu?” Tanya Ucok penasaran.

“Kata Ayahku, harus pakai sepatu yang mengkilap seperti kaca.”

“Yah… aku tak punya yang seperti itu.” Aku dan Ucok menghela napas berat bersamaan lalu terdiam.

Pada akhirnya kami hanya menatap Pohon Uang itu dari kejauhan, sambil menghabiskan makanan ringan yang tersisa. Aku berharap pada Tuhan semoga ada layangan tersangkut di pohon uang itu, supaya aku punya alasan untuk mengambilnya ke sana. Ucok mengaminkan doaku dengan serius.

“Maafkan aku, Topan, kita tidak bisa bermain.” Ucapku lesu melihat layangan di sampingku. Ucok juga menoleh pada Awan, layangannya.

“Padahal aku rindu melihat Awan terbang bersama awan-awan lain yang seperti kapas itu.” Ucok menatap langit yang panas sekilas lalu membuang napas berat. “Semoga besok kita bisa menemukan tanah lapang di tempat lain ya, Ram.” Ucap Ucok bersemangat lagi. Aku hanya mengangguk terus memikirkan bagaimana caranya untuk memanjat pohon uang itu? Semoga besok aku menemukan idenya.

Aku dan Ucok bergegas membereskan tempat makan kami karena waktu tak terasa sudah mulai sore. Kami harus segera pulang takut-takut kalau alarm alami kami akan mulai berteriak memanggil-manggil dan menanyai kami ke seluruh orang di kampung. Ucok tertawa-tawa karena pemikiranku dan bergegas membawa tempat makan dan Awan yang dia genggam.

Bersama iringan kepulanganku, aku berharap dalam hati semoga saat aku dewasa nanti dan mempunyai cukup uang untuk membeli sepatu mengkilap itu, aku bisa pergi menaiki pohon uang yang tinggi itu. Pohon uang yang sudah menggantikan pohon-pohon jambu yang biasa kupetik saat lapar. Pohon uang yang semakin banyak menggeser tempat bermainku. Semoga Tuhan mengabulkan doaku untuk mengambil layangan yang tersangkut di atas sana. Atau mungkin aku bisa bermain layang-layang di atas pohon uang itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment