Bersemestalah

Pagi ini sembari menunggu hujan reda

Sengaja kuseduhkan kopi pahit untuk menghangatkan raga yang terlanjur dingin,

Lalu kunikmati pahitnya bak kepahitan duniawi

 

Rasa-rasanya saya rindu dengan kota, tempat saya berbagi rasa

Tempat saya bisa merasakan apa yang raga lain rasakan,

ah bandung, terima kasih telah menerima dengan apa adanya

 

Aku mengenang kisah-kisah kita ketika hujan

Kita berboncengan

kamu pengendaranya

Dan aku penumpangnya

Kita berteduh di derasnya hujan padahal kita tau sekujur raga telah basah kuyup

Aku seduhkan air hangat agar kau tak kedinginan,

Lalu kita menikmati kehangatan itu walau hanya sekedar air biasa

 

Sudah pukul sembilan lewat dan hujan belum reda

Waktu itu kita masih saja asyik bercengkrama ria

Kamu bercerita tentang apa-apa saja yang telah kamu lalui

Begitu pula aku bercerita apa-apa saja mimpi-mimpiku yang belum terwujud

 

Hujan pun reda dengan sendirinya

Kau bergegas pulang

Apa kau tau?

Aku sangat suka sekali mendengar suara motormu

Rasanya aku ingin berlama-lama berboncengan denganmu

Agar semesta tau betapa bahagianya kita saat itu

 

Tetapi semenjak langit senja yang keliatannya sudah tidak lagi sama

Kau akhirnya pergi tanpa aba-aba

Kau membuat apa yang seharus tumbuh dengan baik menjadi layu

Apa kau tau?

Saat kau memutuskan untuk pergi

Kau membuat hidupku tak berarah

Hingga akhirnya aku lupa jalan untuk kembali

 

Saat itu kita bertengkar hebat

Kau dengan argumentasimu yang kau yakini

Aku dengan segala argumentasi yang aku percayai

Akhirnya kita memutuskan untuk damai

 

“Kita masih berteman baik, kan?” Katamu.

 

Saat itu ingin sekali aku melontarkan apa yang ada di hati

Mencaci maki apa yang telah kita lalui selama ini

Setelah apa yang kau katakan tentang hatimu

Dan juga tentang perasaanmu

 

“Aku tidak bisa membalas rasamu,” ujarmu lagi.

 

Lalu setelah sekian purnama berlalu

Kau baru mengatakannya sekarang

Setelah apa yang telah banyak kita lalui

Setelah kau membuat nyaman raga lain yang berlindung di bawahmu

Setelah kau berbagi bahagiamu dengan raga lain

Dengan mudahnya kamu mengatakan kata-kata yang mungkin tidak mau kudengar lagi

 

Kau tau?

Hidup ini bukan hanya tentang perasaanmu saja

Tetapi juga tentang perasaan raga lain

 

Kau menjadikan orang lain seperti badut di hidupmu

Datang dengan segala luka dan suka cita

Lalu kau seenaknya pergi setelah luka-lukamu reda

Kau tau?

Itu adalah cara untuk menunjukan bahwa kaulah yang sebenar-benarnya sedang patah

 

Berharap semesta dan kita bisa berlapang dada untuk menerima

Tentang dendam yang mendamaikan

Tentang kalah yang tidak mau mengalah

Tentang mimpi yang enggan menjadi nyata

Tentang kita yang sudah tiada

 

Semoga kita bisa menerimanya dengan lega

Sebab semesta masih punya rencana yang sangat luar biasa

 

Terima kasih pernah singgah walau tak pernah benar-benar sungguh

Terima kasih pernah ada kemudian menjadikan kita tiada

 

Aku terima.

2
Leave a Reply

avatar
2 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Bulan Bulan Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Bulan Bulan
Guest
Bulan Bulan

Hai…aku suka banget dg kata2nya..semnagt menulis ya…

Bulan Bulan
Guest
Bulan Bulan

Hai kakak….boleh SS tulisanya?

Top