Tentang Rencana dan Sang Pencipta

Pernah bertanya, kenapa kita para manusia harus menyusun ragam rencana hanya untuk kemudian tidak terlaksana?

Atau kenapa kita para manusia yang keras kepala ini sudah banyak mencari arah hanya untuk kemudian seluruhnya dijarah?

Kita ini terkadang memang tidak bisa diukur oleh angka; sudah mampu berdiri sendiri bukan berarti mahir menyangga diri ketika rencana gagal sekali lagi. Hari ini kita menemukan jawaban, esok lusa mungkin kembali menulis pertanyaan.

Kita ini terkadang masih merangkak, tapi sudah ingin repot mengejar mimpi. Banyak sekali tinta yang menggurat doa di atas lembar putih; bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk mereka yang tabah menunggu wajah pucat pasi ini membuka knop pintu rumah.

Pada dasarnya manusia selalu sudah tau banyak hal; kita berjalan, berlari, dan mencari tau semudah-mudahnya aliran menuju muara yang dituju. Tapi namanya juga manusia, lupa kalau tidak diingatkan. Sebaik-baiknya manusia merencana, tidak ada yang tau pintu mana yang akan terbuka. Dari seluruh usahanya memecahkan rahasia, masih ada yang lebih punya kuasa.

Manusia hakikatnya tidak akan pernah bisa mengatur apa yang akan terjadi dan sudah ditentukan Sang Pencipta, tapi manusia selalu punya pilihan untuk menanggapi dengan duka atau cita; untuk tenggelam menyelami tanda tanya atau meyakini bahwa mereka lebih besar dari seluruh perasaan yang menyertainya.

Kepada Sang Pencipta yang selalu mendengar, semoga masih ada banyak waktu untuk kami menitip pesan. Apabila tidak bisa sesuai dengan angan dan harap yang kami panjat, tolong berikan sebaik-baiknya rencana-Mu.

Untuk semua manusia yang tengah berusaha, semoga rasa dan karsa selalu disertai bahagia. Kita para makhluk kecil ini hanya bisa berprasangka baik, biar yang di luar kendali diatur oleh Sang Ahli.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top