Dia selalu menungguku setiap aku pulang ke rumah. Setiap aku selesai melakukan suatu kegiatan, atau pergi ke suatu tempat, atau berinteraksi dengan orang-orang lain. Dia selalu ada, setia bertanya setiap malam dengan pertanyaan favoritnya, “Bagaimana hari ini?” Yang selalu aku jawab dengan panjang lebar, namun tentu saja tidak detail. Seperlunya saja. Dalam keharusanku menjawab itu, seringkali ada momen di mana aku menyesali apa yang telah kulakukan atau kukatakan di hari itu. Di mana aku mengingat dengan jelas raut atau nada bicara orang yang mendapat timbal balik dari hal yang kusesalkan tadi.

Hampir selalu ada hal yang kusesali setiap harinya. Dia menyadari itu, menyadari nada jawabanku yang sedikit berubah, dan hanya mengatakan, “Penyesalan itu tidak berguna kecuali kamu melakukan sesuatu untuk mengubahnya. Atau,
kamulah yang harus berubah.” Aku ingin membela diri, bahwa, aku sudah berubah. Banyak. Tapi, tetap saja. Perubahan itu tidak pernah cukup. Ibuku pernah bilang, kita semua memelihara monster. Monster itu akan keluar di saat yang tidak tepat—atau barangkali saat yang tepat, tergantung dari sudut pandang siapa yang kita bicarakan. “Bagaimana caranya?” Dia bilang dia juga tidak tahu caranya. Dia bilang, kita semua selalu membuat kesalahan setiap harinya.

“Beruntunglah kamu jika menyadarinya. Kebanyakan orang bahkan tidak sempat memikirkan kesalahan yang mereka lakukan. It just happened. Seringnya orang hanya fokus memikirkan hati mereka yang sakit, bukan hati yang mereka sakiti.” Di satu sisi aku tidak merasa beruntung. Aku merasa terlalu banyak berpikir dan kadangkala itu tidak perlu. Lagipula dia salah. Aku juga masih sering memikirkan hatiku yang sakit. “Mengenai terlalu banyak berpikir, memangnya kamu pikir aku ini siapa?” tanyanya.

Aku jadi ingat film yang pernah kutonton. Tentang Kevin, seseorang yang memiliki 23 kepribadian. Kadang ia menjadi seorang lelaki muda yang biasa-biasa saja. Kadang ia menjadi seorang lelaki dengan OCD akut sehingga segala hal harus selalu bersih, rapi, dan sempurna. Kadang ia menjadi seorang anak lelaki kecil yang senang bermain. Kadang juga ia menjadi seorang wanita yang anggun, tegas, namun memiliki sisi gelap. Dari 23 kepribadian yang ia miliki, kemudian munculah kepribadian baru yang paling menyeramkan, paling sadis, dengan kekuatan dan naluri seperti binatang buas, di mana kepribadian-kepribadian lain memanggilnya beast. Monster.

Atau cerita tentang seorang perempuan muda di Jakarta yang divonis memiliki beberapa kepribadian. Satu kepribadiannya adalah seorang gadis kecil yang senang mengoleksi boneka. Satu kepribadiannya adalah seorang laki-laki sadis yang membunuh hewan-hewan peliharaan tetangganya. Satu kepribadiannya adalah seorang wanita muslim yang senang memakai jilbab dan mengaji, di saat ia sendiri merupakan seorang katolik. Aku mengira itu semua hanya terjadi dalam cerita. Aku sendiri tidak mendalami Double Identity Dissorder atau DID, dan bagaimana itu bisa terbentuk. Bagaimana bisa ada beberapa kepribadian yang berbeda jauh, baik dari segi sifat, umur, atau bahkan gender, dalam satu tubuh yang sama. Satu teori yang aku baca, DID terjadi akibat trauma masa kecil. Trauma yang seperti apa, aku pun tidak tahu. Hanya saja, aku percaya bahwa kita semua memiliki beberapa jenis kepribadian yang keluar sesuai dengan siapa yang kita ajak bicara.

Aku di depan kenalan, aku di depan sahabat, aku di depan orang yang lebih tua, aku di depan orang yang tidak kukenal. Bahkan lebih spesifik lagi, aku di depan si A, di depan si B, di depan si C, tentu akan berbeda. Bukankah kita
semua seperti memakai topeng? Bukan untuk menyembunyikan sifat asli, tapi kupikir lebih seperti untuk menyesuaikan bentuk. Aku tidak tahu, apakah memang semua orang merasa memakai topeng dan memiliki banyak kepribadian sepertiku, atau hanya aku saja. Bersyukurlah orang yang merasa sifatnya sama di depan siapapun. Bukankah seharusnya yang membedakan adalah sikap, bukan sifat. Pertanyaan selanjutnya yang sering kutanyakan adalah, sebenarnya yang mana sifat asliku? Yang mana yang terbentuk karena penyesuaian? Yang mana yang kubawa dari lahir?

Apakah monster yang dimiliki semua orang seperti kata ibuku itu merupakan bentuk penyesuaian, atau dibawa dari lahir, atau sama sekali berbeda dengan diri yang sebenarnya?

Monster, seperti beast milik Kevin.

“Lalu, siapa kamu?” Aku bertanya padanya. Pada diriku yang ada dalam cermin.
Jawabannya singkat saja.

“Tidurlah.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cancel Post Comment