Ustadz Jaga Jarak: Saat Berbagi Tidak Terbatas Pada Kepunyaan Sendiri

Melanjutkan dari episode sebelumnya yang sukses menggugah haru dan juga tawa, pada dua episode lanjutan serial web Ustadz Jaga Jarak, Ustaz Fahmi bersama Jidan bertemu dengan Dokter Diaz dan Ibu Hanie. Berbeda dari episode-episode sebelumnya, pada episode 9, giliran Ustaz Fahmi yang dicecar berbagai pertanyaan oleh lawan bicaranya, yaitu Dokter Diaz. Sementara itu, pada episode 10 berjudul “Misteri Tentang 100 Perak” muncul kebimbangan yang dirasakan Ustaz Fahmi. Simak Lebih lanjut!

Episode 9: “Zaman Apa Ini?”

Episode 9 dibuka dengan kemunculan Aisyah, seorang perawat yang mengutarakan ketakutan setelah diserang oleh pasien terjangkit COVID-19 pada saat sedang bertugas di episode 4 lalu. Dalam percakapan singkat yang terjadi, Aisyah mengantarkan Ustaz Fahmi dengan Dokter Diaz, salah seorang dokter yang juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan Aisyah.

Maksud Ustaz Fahmi menghubungi Dokter Diaz adalah untuk mengajukan diri menjadi relawan. Dokter Diaz dengan senang hati menerima tawaran Ustaz Fahmi walau ia mengaku tidak bisa memberikan bayaran dengan nominal yang besar, “Ya paling hanya untuk ongkos saja,” begitu ucapnya.

Selain memberitahukan maksud baiknya yang ternyata mendapat tanggapan positif, Ustaz Fahmi juga menanyakan apakah Dokter Diaz memiliki lowongan pekerjaan yang bisa ia berikan kepada salah seorang teman yang terkena PHK. Mendengar ucapan tersebut Dokter Diaz lantas diam dalam durasi lumayan lama.

“Ni kawannya punya keahlian apa Pak Ustaz?” Pertanyaan kembali muncul dari Dokter Diaz. Ternyata yang dimaksud Uztad Fahmi adalah Rohmat, seorang buruh pabrik yang kemarin mengeluh kehidupannya akibat di-PHK, tetapi harus tetap membiayai kebutuhan hidup sehari-hari. Setelah mendapatkan jawaban kurang meyakinkan dari Ustaz Fahmi perihal tempat kerja Rohmat, Dokter Diaz bertanya lagi, “Baru kenal kenapa langsung ditolongin kayak gini sih? Barangkali dia bukan orang yang benar-benar minta pertolongan”. Mendengar pertanyaan Dokter Diaz, alih-alih menjawab, Ustaz Fahmi malah melantunkan salah satu hadis yang ia jadikan landasan atas tindakannya, hadis itu berbunyi:

“Manusia yang dicintai oleh Allah adalah manusia yang berguna dan bermanfaat kepada manusia lain, dan perbuatan yang dicintai Allah adalah perbuatan yang memberikan kebahagiaan kepada manusia lain dan juga menghapus kesusahannya.”

Belum selesai akan rasa penasarannya, Dokter Diaz lantas bertanya lagi, “Di sini voucher makan cuma satu kali loh untuk buka puasa, enggak dapet lagi buat sahur. Terus Ustaz sahur pakai apa?” Tanpa ragu Ustaz Fahmi menjawab, “Air putih Dok.” Sontak saja, jawaban yang diberikan Ustaz Fahmi membuat Dokter Diaz geleng-geleng kepala. Jangankan Dokter Diaz, saya yang menontonnya saja ikut heran. Apa masih ada orang dengan perangai begitu suci seperti Ustaz Fahmi, yang sedang susah-susahnya tapi masih saja berpikir untuk membantu orang lain? Pantas saja judul episode 9 kali ini adalah “Zaman Apa Ini?”

Hati tulus dan bersih yang dimiliki Ustaz Fahmi nampaknya mampu meluluhkan Dokter Diaz yang di akhir episode mengungkapkan keinginannya untuk membantu Ustaz Fahmi dan keluarga. Memang benar rupanya, jika berbagi dan berbuat kebaikan dapat menular tanpa diminta.  “Doa anak saleh,” tawa dan senyum mengembang di bibir Jidan sesaat setelah Dokter Diaz memutuskan sambungan video konferensi.

Giliran seorang ibu rumah tangga yang kali ini menghubungi Ustaz Fahmi untuk berkonsultasi perihal seorang anak yang ditinggalkan oleh neneknya. Ibu Hanie mau tidak mau harus mengurus cucu peninggalan tetangganya di tengah biaya kebutuhan hidup yang semakin meningkat, juga masa kontrakan tempat tinggal anak sebatang kara itu yang tinggal menghitung jari.

Episode 10: “Rahasia 100 Perak”

Setelah Bu Hanie bercerita tentang kesulitan yang dialami, Ustaz Fahmi menawarkan diri untuk berbicara langsung dengan cucu dari tetangga Bu Hanie yang kini hidup seorang diri. Tanpa disangka-sangka anak tersebut adalah mad’u pertama Ustaz Fahmi dan Jidan, siapa lagi kalau bukan Dodi Hotwhiil.

Wajah ceria begitu tampak dari anak laki-laki yang ternyata memiliki nasib malang. “Dodi, Ustaz udah tau cerita tentang nenek Dodi, juga kondisi Dodi sekarang.” Mendengar kata “nenek”, wajah Dodi langsung berubah murung, mungkin wajah nenek tercinta langsung terbayang dalam benaknya. Jidan juga mengambil kesempatan untuk meminta maaf kepada Dodi atas perlakuan kasarnya.

Selalu ada saja tindakan Ustaz Fahmi yang membuat penontonnya tak habis pikir. Setelah kemarin Dokter Diaz dibuat heran dengan kepedulian Ustaz Fahmi pada orang asing, kini lagi-lagi kepedulian Ustaz Fahmi membawanya mengajak Dodi untuk tinggal bersama dirinya dan Jidan. Seperti mewakili penonton, Jidan langsung mematikan suara dan video konferensi untuk mulai berdebat dengan Ustaz Fahmi, “Eh Mi, kau sudah gila ya rupanya, bantuin, sih, bantuin tapi enggak gini-gini juga.“ Sesi konsultasi Ibu Hanie pun harus berakhir dengan sebuah janji yang diberikan Ustaz Fahmi untuk mencarikan solusi secepatnya.

Gelisah terlihat dari wajah Ustaz Fahmi setelah mengetahui kondisi yang dilanda Dodi. Hanya satu nama yang muncul di dalam pikirannya yaitu Dokter Diaz yang sempat menawarkan bantuan secara berkala kepada diri dan keluarganya. Kebimbangan yang menyelimuti Ustaz Fahmi diperparah dengan ucapan Jidan yang seakan-akan me-recall kembali ucapan Ustaz Fahmi kepada Ibu Hanie di awal sesi konsultasi, perihal jangan menolong orang jika sampai menyusahkan diri sendiri juga keluarga. Ustaz Fahmi seperti kembali menelan bulat-bulat ucapannya.

Lantas apa yang akhirnya diputuskan oleh Ustaz Fahmi? Apakah dia akan merelakan bantuan dana yang diberikan oleh Dokter Diaz dengan memberikannya kepada Dodi atau sebaliknya, mendengarkan ucapan Jidan dengan mengutamakan keluarga di atas segalanya? Tonton selengkapnya dan tunggu kelanjutannya di kanal YouTube Menjadi Manusia

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top