Tidak Ada Waktu Berduka bagi Bapak Negara

Banyak hal buruk terjadi akhir-akhir ini, bermula dari sebuah virus yang menyebar dan menjangkiti banyak jiwa sampai krisis ekonomi sebagai salah satu dampak atas kondisi yang terjadi. Banyak orang yang mau tidak mau harus berdiam di rumah mereka sendiri, mengurangi mobilisasi, menahan pertemuan dengan teman dan rekan, mengatur biaya pengeluaran agar tetap bisa makan sampai akhir bulan, serta mengatur kembali semua jadwal dari awal. Belum lagi berita yang terus berseliweran tentang korona dan dampaknya pada dunia, membuat aktivitas menonton atau membaca berita di media massa tidak lagi menyenangkan, tapi justru menyesakkan dan menakutkan.

  

Belum tuntas masalah korona, akhir minggu lalu Ibu Pertiwi mendapat kabar duka lagi. Tepat pada tanggal 25 Maret 2020, Presiden Joko Widodo kehilangan ibu tercinta akibat penyakit kanker yang telah dideritanya sejak 4 tahun lalu. Di tengah pandemi, almarhumah Ibu Sujiatmi Notomiharjo dikebumikan dengan cara sederhana. Tidak ada upacara kenegaraan dalam prosesi pemakaman, tidak ada rombongan pejabat tinggi negara yang mengiringi kepergian beliau, hanya ada keluarga dan tetangga dekat yang ikut menyaksikan, pun, protokol tentang aturan jarak dan penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) sederhana tetap diberlakukan. Sebagai anak pertama dan anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga Notomiharjo, peristiwa ini tentunya berbuah pilu bagi presiden kita; beban sebagai pemimpin negara ditambah harus menjadi batu sandaran adik-adik perempuan tercinta selepas kepergian ibunda. 

 

Sujiwo Tedjo, seorang seniman sekaligus tokoh budayawan, menyarankan untuk memberi libur kepada Presiden Joko Widodo lewat akun media sosial pribadinya. Hal tersebut ia sampaikan lantaran pengalaman serupa yang juga pernah ia alami. “Aku ndak ngerti tentang boleh atau tidaknya RI 1 libur, tapi aku hanya mengalami beratnya anak laki-laki ditinggal ibu,” tegasnya. Tapi tampaknya, situasi tidak merestui, tidak ada satu hari pun untuk Bapak Joko Widodo berduka atas kepergian ibunda. Setelah mengantar sang ibu pergi ke tempat peristirahatan yang terakhir pada tanggal 26 Maret, Presiden Joko Widodo langsung kembali mengemban tugasnya sebagai pemimpin negara dengan mengikuti KTT Luar Biasa G20 secara virtual di istana Bogor. Dalam sebuah unggahan pada akun pribadi miliknya, Jokowi menjelaskan bahwa dalam pertemuan tersebut beliau mengajak para pemimpin negara untuk sama-sama memenangkan dua “peperangan” yaitu melawan COVID-19 dan melawan pelemahan ekonomi dunia. Tidak ada kesan kesedihan dan rasa duka dalam foto di unggahan akun media sosialnya.

 

Mungkin, situasi memaksa beliau untuk terus menegakkan kaki bak besi. Bohong jika seorang anak tidak merasa sedih sama sekali ketika harus melihat ibu yang melahirkan dan menjadikan dirinya “orang” seperti sekarang ini harus pergi dari hidupnya. Tapi saya rasa, beliau bisa apa? Terlalu banyak jeritan dari akar rumput sampai bagian pucuk bangsa yang menggantungkan hidup pada kepemimpinannya. Seruan untuk cepat tanggap dalam mengambil tindakan untuk kebaikan banyak pihak mungkin jadi salah satu alasan terkuat beliau untuk tak larut dalam kesedihan. Lantas, tanpa sempat ia bersedih hati dan memikirkan perasaannya sendiri, beliau kembali mengemban tugasnya sebagai pemimpin negara, menyimpan rapat dan menghiraukan perasaan yang ada di hatinya demi kebaikan negara.

 

Ternyata kekuasaan bukan hanya tentang menguasai orang lain, tetapi juga menguasai diri sendiri. Tuhan memang tidak pernah salah menggariskan takdir seseorang. Jika saya tanya, siapa yang mampu dan mau menjalani apa yang dialami Jokowi? Jangankan kehilangan ibu tercinta, harus berdiam lebih dari 14 hari di rumah saja, banyak sekali keluhan yang keluar dari mulut kita. 

 

Bapak negara tidak punya waktu untuk berduka. Namun, kita semua punya waktu untuk menyalahkan, mengeluh, mengumpat, dan bersedih akan keadaan yang sedang kita lalui. Mari ingat kembali bahwa kamu juga punya kuasa atas dirimu sendiri; kuasa untuk bertahan dan menjadi kuat melewati semua yang sedang terjadi. Kuasa untuk membantu banyak jiwa lain dengan cara berdiam di rumah, pun kalau tidak bisa, paling tidak menjaga jarak antara manusia.

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
1 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
SiGula Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
SiGula
Guest

Why i’m cry. Hi thank u!

Top