Tidak Ada Buku Panduan untuk Menjadi Anak yang Baik

Di sudut rumah tempat berbagai macam buku terpajang, saya menatap salah satu buku yang sampulnya sudah lumayan memudar, judulnya Cara Menjadi Orang Tua yang Lebih Baik. Mungkin sudah lama bapak dan ibu saya tidak lagi membaca buku itu, tentu karena anak-anaknya sudah dewasa semua. Tapi saya lantas jadi bertanya sendiri, dari ribuan buku dengan tema serupa, kenapa sebagai anak kita kerap kali tetap sering adu argumen dengan orang tua kita?

Jika kita teliti dengan sederhana, mari kita hitung berapa banyak waktu berkualitas yang kita lewati bersama orang tua. Bukan sekadar bersama secara fisik, melainkan juga waktu bersama untuk saling berbicara, bersenda gurau, menonton tayangan kesukaan, dan bertamasya. Jika dibandingkan, total waktu bersama orang tua bisa jadi jauh lebih sedikit daripada durasi yang kita habiskan bersama teman atau pacar.

Kita dirawat dan dibesarkan dengan eksklusif selama sembilan bulan dalam perut ibu, dua tahun pada masa awal pertumbuhan, lalu ketika kita mulai berbicara dan berjalan, kita akan mulai berkenalan dengan orang lain. Kita akan memiliki teman, pergi ke sekolah, hingga masuk sekolah dasar dan terkurung dalam rutinitas sekolah pukul delapan hingga lima sore selama sembilan tahun tanpa henti. Sadar atau tidak, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan tumbuh dewasa bersama teman, bukan orang tua. Kita mungkin selalu bertemu orang tua setiap hari saat berangkat dan pulang sekolah, pun saat weekend. Tapi sedikit sekali rasanya pertemuan dengan orang tua dilakukan dengan cara yang berkualitas, tentu saja itu karena kedua belah pihak sama-sama sudah lelah dengan hidup mereka. Kita dengan kegiatan sekolah dan tugas yang menumpuk, bapak dengan pekerjaan kantornya, dan ibu yang mengurus rumah setiap hari. Tidak ada waktu ngobrol mendalam, menonton TV bersama saja sudah sebuah anugerah bagi sebagian besar orang.

Barangkali, itu yang membuat kita sulit mengungkapkan isi hati kepada orang tua. Orang yang begitu dekat dan terasa akrab sebagai penghuni rumah, begitu asing untuk dijadikan tempat berbagi suka maupun duka. Saya tidak bilang jika semua orang merasa hal serupa, toh di antara saya dan kakak-kakak saya yang lain, kami pun punya cara yang berbeda dalam melakukannya. Kakak perempuan saya lebih terbuka ketimbang saya, lalu apa lantas saya salah karena berbeda? Tentu tidak. Ini bukan masalah benar atau salah. Ini mungkin masalah dirasa nyaman, perlu, atau tidak.

Mungkin juga karena tidak ada buku panduan tentang menjadi anak yang baik bagi orang tua kita. Kalaupun ada, seberapa besar penjualannya? Apa akan mengalahkan buku-buku tentang parenting? Kita terlalu sibuk mengurusi kehidupan diri kita sendiri, merasa orang tua tidak pernah mengerti jalan pikiran kita dan berakhir menutup rapat-rapat semua peristiwa serta perasaan yang sebenarnya ingin ditumpahkan; hanya karena perkara takut kata-kata sakti terucap, Udahlah, kamu masih anak kemarin sore. Tau apa kamu?

4.7 41 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
5 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Nofri
Nofri
7 months ago

Benar sekali. Kalau cerita ke temen lepas banget, giliran ke orang tua canggung banget. Kalau diluar gua orgnya ceria, pas dirumah pendiam bgt.. ngerasa ga nyaman aja mau cerita, knapa ya?

Ihtaffa
Ihtaffa
7 months ago
Reply to  Nofri

Kalau aku karena semua yang aku lakuin harus sesuai keinginan mereka dan ga ada kesempatan buat aku untuk speak up jadinya rumah bukan seperti istana

Styrinii
Styrinii
2 months ago
Reply to  Ihtaffa

Semangat yaa

Styrinii
Styrinii
2 months ago
Reply to  Nofri

Kalau aku, waktu di rumah itu orangnya tertutup dan cenderung mendem semuanya sendiri karena aku ngerasa setiap emosi perasaan yang aku rasain seakan salah di mata mamaku. Bahkan ketika ngerasa sakit, pusing atau apa sering banget dibilang, “halah kamu kerjaannya ngapain orang cma skolah doang, pake segala ngeluh pusing segala.” jadi ya banyak hal kecil dari aku yang bahkan orang rumah gak tau, tapi temenku malah tau hehe. Di rumah pasti jadi orang yang cuek dan sok kuat, pdahal bagi banyak orang rumah tempat istirahat dari lelahnya hidup ya…

Sita Oktaviani
Sita Oktaviani
1 month ago

Aku kalo mau cerita sama orangtua terutama ke mama, tuh pasti pas mama minta pijetin betisnya baru deh aku ngeluarin omongan “ma pia mau cerita” atau “ma, masa blablabla”
jadi posisinya tuh kita gak tatap tatapan, karena aku gak bisa cerita trus ngeliat mata mama, apalagi kalo ceritanya yang bikin aku sedih. Mata mama tuh sedihhh banget ikutan ngerasain apa yang dirasain anaknya, gak bisa aku.

Top