Selama Bisa Waras

Begini, jika kekurangan kita bagaikan helaian rambut di kepala, berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk menghitung totalnya? Mungkin sampai mulut kita kelu dan sungguh membuang-buang waktu. Begitu mudah kita menyebut kekurangan dalam diri, berbanding terbalik dengan kelebihan-kelebihan yang kita miliki.

Saya bukan anak yang sempurna. Ibu sering memarahi saya jika saya seharian hanya tidur-tiduran di kasur tanpa membantunya. Saya bukan adik yang sempurna. Kakak-kakak saya kerap kesal jika saya mengambinghitamkan mereka saat saya kedapatan salah. Saya bukan teman yang sempurna. Beberapa teman merasa saya susah diajak bertemu dan bermain, mereka bilang saya sibuk. Dan sebagai sosok individu, saya ceroboh, mudah tersinggung, juga keras kepala. Saya bukan orang yang sempurna dan itu menjadi kekurangan saya. Tapi toh manusia memang diciptakan tuhan tidak sempurna bukan?

Saya telah menyadari dan menerima kekurangan-kekurangan itu. Tapi, masih ada satu kekurangan yang terus menghantui saya, yaitu selalu merasa kurang.

Waktu kecil, saya selalu iri dengan mainan baru yang dibeli teman saya: rumahan-rumahan yang lebih besar, sepatu dengan lampu-lampu yang lebih canggih, atau sepeda roda dua yang punya keranjang di depannya. Saya selalu ingin sama dengan teman-teman saya yang lain.

Ketika beranjak remaja, juga demikian. Di saat orang-orang sudah punya ponsel Android yang bisa menyambung ke internet, saya merasa tertinggal karena hanya punya ponsel Nokia yang kemampuannya baru sebatas mengirim pesan singkat dan telepon saja.

Lalu sekarang ketika semakin dewasa, makin banyak perasaan kurang yang melanda saya. Semenit dua menit saja bermain media sosial, saya sudah bisa merasa kurang cantik, kurang pintar, kurang berprestasi, atau sesederhana kurang produktif.

Sepertinya, selain tidak sempurna, tuhan juga menciptakan manusia dengan perasaan kurang yang sering melingkupi hati kita. Rasa itu membuat banyak dari kita hidup dengan penuh kekhawatiran. Saya ingin mencoba menghempaskan beban maya yang terus saya pikul tapi tak tahu bagaimana caranya. Lahir dan tumbuh di daerah kota satelit membuat saya sedari dini secara tidak sadar menyontek gaya hidup penduduk pusat kota yang punya pola kerja seperti kuda; selalu terburu-buru dan tidak pernah merasa cukup.

Other animals live in the present. Humans cannot, so they invented hope,” kutipan dalam film I’m Thinking of Ending Things (2020). Kutipan yang membuat saya sadar, jika kendati digempur kelelahan pada “terus merasa kurang”, harapan adalah penawar yang  membuat saya tetap bertahan dan waras. Saya tau hal tersebut juga mengartikan saya harus siap menanggung risiko dikecewakan diri sendiri di kemudian hari dengan harapan yang saya pupuk. Tapi selama saya bisa waras hari ini, akan saya terima.

5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top