Selalu Ada Dua Pilihan: Bersuara atau Diam

Apakah peribahasa Mulutmu Harimaumu masih relevan di tengah era digital saat jari jemari justru lebih lihai dalam bersuara?

Satu minggu sebelum Idulfitri, lini masa media sosial Instagram saya ramai dipenuhi dengan kabar perihal Israel dan Palestina. Mulai dari teman virtual, kenalan, dan beberapa tokoh publik yang saya ikuti berbondong-bondong membagikan ulang unggahan tentang peristiwa yang terjadi di Sheikh Jarrah dan masjid Al-Aqsa. Sejujurnya saya merasa sedikit gatal untuk ikut meramaikan lini masa dengan topik serupa karena FoMO (Fear of Missing Out) dan adanya dorongan rasa empati, tapi saya urung melakukannya. 

Hal serupa juga terjadi pada akhir pekan setelah Idulfitri. Baru saja nuansa toleransi begitu hangat saya rasakan ketika melihat kalender berwarna merah dengan keterangan hari raya Idulfitri yang didampingi dengan peringatan kenaikan Isa Al-Masih. Lini masa Twitter saya justru ramai dengan dua video viral yang menampilkan ibu-ibu emosi lengkap dengan kata-kata kasarnya. Lagi-lagi saya merasa gatal ingin ikut berkomentar, tapi saya urungkan. 

Pada abad ke-21, ruang digital merupakan tempat semua informasi dan kabar terkini bermuara. Kebebasan yang ditawarkan membuat ruang digital menjadi safe place bagi setiap pengguna untuk bisa berekspresi, berinteraksi, berbagi, dan melakukan apa saja semau mereka. Sayangnya, seperti halnya The Malthusian Theory of Population yang membandingkan antara pertumbuhan penduduk dan ketersediaan makanan, perkembangan teknologi bisa diibaratkan sama seperti penduduk yang pertumbuhannya berdasarkan satuan ukur, sedangkan kemampuan manusia berkembang dengan satuan hitung. Artinya, teknologi terus melaju dengan pesat dan manusia sebagai penggunanya harus terbirit-birit mengimbanginya.

Bukannya saya apatis dan tidak peduli pada isu terkini, tetapi beredarnya kabar dengan arus informasi yang begitu cepat membuat saya justru merasa kewalahan untuk mencerna dan menyaring informasi yang benar juga akurat. Kita perlu mengingat kembali kasus #JusticeforAudrey sebagai prank nasional tahun 2019 lalu atau yang paling terbaru adalah rekayasa penemuan babi ngepet di Sawangan, Depok, yang berhasil menggegerkan jagat maya. Dua contoh di atas terjadi karena kemudahan jari jemari dalam menekan tombol like dan share yang membuat isu tersebut terus bergema. Konsep stickiness di ruang digital yang menjelaskan keterlibatan emosi dalam mengonsumsi konten membuat banyak dari kita yang melewatkan satu bagian penting sebelum membagikan informasi tersebut, yaitu mengecek kebenarannya.

Tak ada salahnya berbisik atau lantang bersuara sekalipun di ranah digital. Saya justru sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada teman, rekan, dan tokoh publik yang telah menunjukkan rasa kepedulian tinggi dengan ikut membagikan, mengunggah, serta memberikan komentar pada isu-isu terkini. Hal tersebut, toh, mengedukasi saya. Tetapi alih-alih ikut melakukan hal serupa, dengan minimnya kapabilitas pengetahuan yang saya miliki, saya memilih untuk diam dan memperhatikan. Karena bukan hanya informasi, melainkan disinformasi juga selalu bertebaran di berbagai media.

Meskipun ada yang bilang bahwa kebaikan harus lantang disuarakan, saya selalu percaya kalau ada begitu banyak bentuk kebaikan yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki dunia. Khususnya di media sosial, bisa kita lakukan dengan secara aktif seperti beberapa teman dan kenalan yang saya ikuti. Bisa juga secara pasif dengan tidak membagikan informasi yang belum dipahami betul duduk perkaranya. Jangan lupa, kita juga punya dunia nyata dan bisa melakukan banyak hal baik di sana.

Pada prinsipnya, tidak ada yang pernah melarang kita untuk melakukan apa saja di media sosial. Asalkan nurani berkata hal tersebut baik untuk dilakukan dan tidak lantas menghilangkan rasa peduli kita sebagai manusia, memilih bersuara atau diam sama-sama merupakan bentuk kebaikan.

Bacaan lebih lanjut:

5 7 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Top