Peristiwa Ramadan: Huru-Hara di Perut Kita

Tiap kali Ramadan telah membuka matanya, pukul empat sore selalu jadi momen sakral untuk seseorang. Saat aroma manis dari gula jawa dan santan menyeruak ke seisi rumah, diiringi suara gemercik dari minyak panas yang dimasuki adonan tepung membungkus sayuran yang tak kalah menarik perhatian. Belum lagi seloyang puding yang sudah menunggu dengan setia di dalam lemari es sejak siang tadi. Sayur dan ayam goreng yang baru saja terangkat dari wajan pun menjentikkan matanya, begitu indah dan menggoda hingga tak sabar untuk segera menyantapnya.

 

Akhirnya sahut-sahutan azan terdengar. Berkat iklan sirop di televisi yang menampilkan kesegaran es buah di jam-jam kritis, saliva berhasil memproduksi enzim amilase sebagai pelumas santapan petang ini. Doa pembuka puasa pun dilafalkan sebelum kemudian segelas teh manis panas meluncur masuk ke dalam kerongkongan yang sudah kering sejak pukul tiga sore tadi. Bakwan menyusul masuk mulut, dikoyak tanpa ampun oleh gigi sebanyak tiga puluh dua kali dua kali bahkan lebih. Belum sempat kunyahan bakwan secara sempurna diberikan gerakan peristaltik untuk tiba dengan selamat ke lambung, kuah kolak sudah mendarat di lidah, disambung dengan ubi dan pisang yang lagi-lagi dikoyak dan terus masuk ke kerongkongan lalu lambung manusia. Tanpa sempat organ pencernaan mengambil napas panjang, pemilik raga bersiap menyantap makanan utama, seporsi nasi lengkap dengan sayur dan ayam goreng.

 

Selama lebih dari delapan jam mengistirahatkan diri, sistem organ pencernaan manusia yang berpuasa seperti diberi defibrillator setiap pukul enam sore, lantas huru-hara pun terjadi dalam perut kita. Lambung yang sudah mengerut terpaksa menampung berbagai jenis makanan tanpa sempat melakukan pemanasan. Usus halus yang sedari siang tampak lengang, seketika seperti jalanan protokol pukul 7 pagi, padat merayap karena makanan saling mendahului agar dapat sampai ke bagian usus 12 jari, entah kemudian diserap sari patinya atau dibusukkan dengan bakteri escherichia coli menjadi kotoran.  

 

Begitu kira-kira kondisi perut kita setiap kali Ramadan tiba. Selalu menegangkan bagi organ pencernaan, kala kita melampiaskan hasrat dan dahaga yang akhirnya terpuaskan setiap petang. Saya tau bahwa tak banyak yang terbiasa berpuasa, menahan lapar selama lebih dari delapan jam tanpa asupan apa-apa. Karena biasanya, dalam satu hari perut pasti akan diisi makanan berat dua sampai tiga kali. Belum lagi tambahan camilan untuk menemani kerja, minuman Boba sebagai asupan gula yang ampuh memperbaiki mood, serta jajanan pinggir jalan yang tak lengkap rasanya tanpa bumbu penyedap, walau tak baik bagi kesehatan, tapi tetap menjadi primadona banyak orang. Sehingga tak heran, banyak dari kita justru mengalami kenaikan berat badan akibat menyantap makanan berlebihan di waktu sahur dan berbuka.

 

Alih-alih mensyukuri kedatangan bulan suci umat Islam tempat banyak pahala bertaburan, banyak dari kita justru merasa terpenjara dengan kewajiban yang harus dilakukan. Padahal, esensi berpuasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga. Jika kita menelaah lebih jauh, puasa ternyata dapat memperbaiki sistem metabolisme tubuh. Ahli nutrisi Nour Zibdeh mengatakan, puasa telah memberikan waktu pada saluran pencernaan untuk beristirahat dan detoksifikasi. Puasa juga memungkinkan tubuh memanfaatkan energi yang tersimpan di dalam jaringan lemak. Ahli kesehatan dan nutrisi, dr Maria Charlotte BMedSci, menambahkan, peningkatan metabolisme saat berpuasa membuat tubuh menyerap nutrisi apa pun dengan lebih optimal, baik itu nutrisi makro maupun mikro.

 

Walau puasa di bulan Ramadan adalah ibadah sedangkan COVID-19 adalah musibah, saya merasa keduanya dapat memberikan pelajaran berarti bagi manusia. Selain memberi makna untuk hidup dengan lebih sederhana dan tidak berlebihan, puasa juga memberi pelajaran untuk memberi jeda pada rutinitas yang setiap hari telah kita jalani. COVID-19 pun berbisik, “Efek yang kutimbulkan hampir serupa kan?”

 

Seperti dua penjelasan ahli nutrisi yang sudah saya ungkapkan di atas, semoga pandemi ini juga membuat seluruh isi bumi dapat mendetoksifikasi diri, memberikan kesempatan pada tiap unsur bumi untuk beristirahat agar dapat bekerja lebih optimal setelah wabah ini bertemu muaranya. Pun saya berdoa semoga, saat waktu itu tiba, tidak terjadi huru-hara di dunia.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top