Perihal Memahami, Menerima, dan Mencintai Diri

Makan semangkuk mi instan tengah malam, maraton seri tiga musim, membeli barang bermerek dengan harga jutaan, menambah dua sampai tiga jam waktu tidur, atau sekadar rebahan, semua orang memiliki cara untuk melayani diri mereka sendiri; punya waktu, barang, dan tindakan atas kemauan sendiri. Tapi, apa lantas kita sudah mampu mencintai diri sendiri?

Ibu saya suka mencamil daripada makan makanan berat. Setiap hari ia paling banyak makan dua kali, itu pun kalau dia tidak malas, seringnya hanya satu kali. Kemarin ibu terkena vertigo, cukup lama dokter memeriksanya, ternyata ibu kurang asupan gizi. Kakak perempuan saya beda lagi, kecintaannya pada minuman dingin mengantarkannya ke meja operasi untuk dibedah hidungnya akhir tahun lalu. Ada juga cerita seorang teman yang terkena radang tenggorokan karena sering makan makanan kesukaannya yang pedas dan kuat, dengan berat hati ia harus meninggalkan makanan yang sejak kecil sudah ia cintai.

Ibu, kakak perempuan, dan seorang teman begitu mahir melayani kemauan mereka sendiri. Sayangnya seperti bumerang, ternyata itu semua berbalik menyerang tubuh mereka. Lalu apa benar, jika sebagai manusia kita mampu untuk menerapkan self-love? Atau jangan-jangan, saat ini kita hanya satu dari sekian banyak orang yang tanpa sadar hanya ikut terbawa arus glorifikasinya saja.

Dunia berubah, pun manusianya, itulah mengapa kita sulit mencintai diri kita sendiri. Ketimbang mencari cara untuk benar-benar menerapkan self-love, kita justru lebih sering untuk melakukan beberapa hal yang menenangkan hati namun sifatnya hanya sementara. Ibarat tangan yang pegal, hampir semua dari kita tidak lantas memijatnya agar hilang, tetapi kita potong dan tinggalkan. Hingga nanti entah di waktu kapan, si tangan balik lagi menagih janji untuk kembali dipasang, menimbulkan luka dan sakit masa lalu yang memang belum sempat kita selesaikan. Mungkin, itu juga alasan di balik banyaknya hal buruk yang ingin kita lupakan justru menjadi yang paling mudah terkenang.

Self-love tidak serta-merta mudah untuk berdiri kokoh seorang diri di tengah ego, emosi, dan nurani dari satu individu yang jarang berpadu.

Kita tidak lantas bisa langsung mencintai diri kita sendiri tanpa secara sadar mengetahui seluk-beluk diri yang telah melekat sejak dini. Bentuk tubuh, warna kulit, logat yang digunakan ketika berbicara, aktivitas dan makanan kesukaan, pun situasi yang paling kita benci, hindari, dan bisa membahagiakan hati. Self-awareness, sadar tentang diri sendiri.

Pun ketika seseorang sudah mengetahui tentang apa-apa yang ada di dalam diri dan hidupnya, semua lagi-lagi akan percuma tanpa self-acceptance, proses menerima setiap kurang, lebih, normal, dan aneh diri: menerima bentuk pipi yang chubby, suara yang melengking, hidup tanpa hobi dan makanan kesukaan karena semua terasa sama, menerima kondisi-kondisi tidak terprediksi yang terjadi di depan mata walau sudah berusaha kita tanggulangi dari jauh-jauh hari, dan dengan kelapangan hati melakukan sesuatu yang paling dibenci atau merelakan yang paling dicintai untuk kemaslahatan diri.

Ketika seseorang sudah mampu paham seutuhnya tentang diri dan berdamai akan tiap-tiap itu, bisakah kita menyebut kalau dia telah berhasil mencapai self-love, ketika dia bukan hanya mencintai dirinya dan hanya melakukan apa yang membuat hatinya senang saja, tetapi juga titik di mana dia rela mengorbankan nurani dan egonya untuk dirinya sendiri?

Saya jadi berpikir, jika memang dalam mencapai tahap self-love harus diiringi oleh self-awareness dan self-acceptance, apa tidak akan memakan waktu yang lama, bahkan lebih lama dari waktu seumur hidup yang dibilang orang-orang? Pantas saja manusia tidak pernah khatam.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Top